Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #5

BAB 5: TINTA DARI LUKA YANG TERBUKA

Tangisan itu tidak mau berhenti. Makin lama makin mirip suara kertas yang dipaksa masuk ke mesin giling. Menyakitkan. Ngilu sampai ke sumsum tulang. Aku menatap kertas dari kulit manusia di depanku. Darah di telapak tanganku mulai mengering, kecokelatan, tapi kertas itu seolah punya mulut yang haus. Dia menghisap sisa merah itu, menuntut lebih banyak cerita untuk dikunyah.

"Baru judul, Sastra. Jangan cengeng. Di sini, air mata tidak laku," desis suara Mbah Jati. Entah dari mana datangnya. Mungkin dari balik bantal yang mendadak berubah keras, berisi tumpukan kerikil tajam yang siap memecahkan tengkorakku kalau aku berani merebahkan kepala.

Aku mulai menulis paragraf pertama. Tentang meja makan.

Begitu ujung pulpen menggores "kulit" itu, meja tulis di depanku bergidik. Gila. Kayu jatinya melunak, berubah jadi gumpalan daging mentah yang masih berdenyut. Baunya? Bau anyir darah segar yang dicampur uap cabai rawit setan yang membusuk. Mataku perih. Air mata keluar tanpa diundang, panas, warnanya hitam seperti jelaga yang dikerok dari pantat kompor Ayah.

Aku tulis: "Di rumah ini, nasi adalah batu yang dipaksa masuk ke kerongkongan setiap malam. Kami mengunyah benci, menelan harga diri."

BRAK!

Piring porselen di dalam video laptop itu pecah secara nyata di atas mejaku. Serpihannya terbang, menyabet lenganku. Perih. Darah lagi. Tapi aku tidak berhenti. Jariku kaku, tapi amarahku encer. Aku tulis lagi tentang Ibu yang matanya buta oleh pendar layar ponsel. Tentang bagaimana dia lebih mengenal algoritma Facebook daripada isi kepala anaknya sendiri.

Lihat selengkapnya