Piring di lantai itu menatapku. Nasi merahnya tampak seperti kumpulan larva yang membeku, dan di tengahnya, sebuah cabai rawit utuh berdenyut. Deg... deg... deg... Cabai itu punya detak jantung. Baunya bukan cuma pedas, tapi bau keringat Ibu yang bercampur bedak murahan.
"Makan, Sastra. Tulisan butuh tenaga, tapi kejujuran butuh nyali," suara Mbah Jati menjauh, meninggalkan gema langkah yang terseret.
Aku merangkak dari kursi duri. Kakiku perih, kulitnya melepuh sisa jilatan api dari Bab 5 tadi. Aku ambil cabai itu. Begitu kusentuh, kulit cabainya terasa panas dan kenyal, persis seperti menyentuh cuping telinga manusia. Tanpa pikir panjang, kumasukkan ke mulut.
Gubrak!
Rasa pedasnya bukan membakar lidah, tapi meledakkan ingatan.
Ini bukan cabai. Ini adalah gumpalan kata-kata tajam yang pernah keluar dari mulut Ibu. Setiap kali aku mengunyahnya, aku mendengar suara Ibu yang mendayu-dayu di depan tetangga, memamerkan keberhasilan anak orang lain sambil menginjak-injak kepalaku pelan-pelan.
"Sastra itu... ah, dia memang beda. Terlalu banyak baca buku sampai lupa cara cari uang. Kasihan ya kami..."
Aku tersedak. Kerongkonganku rasanya disiram air raksa panas. Mataku melotot, menatap cermin tulang rusuk yang kini tidak lagi menampilkan Ayah. Cermin itu berubah jadi layar ponsel raksasa. Di dalamnya, ribuan foto Ibu sedang tersenyum narsistik, dikelilingi simbol 'Like' yang beterbangan seperti lalat hijau di atas bangkai.