Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #7

BAB 7: BAU MELATI DI LORONG

Pintu kamar nomor 13 menutup dengan dentuman yang menggetarkan isi perut. Aku berdiri di lorong, punggungku bersandar pada pintu yang masih terasa hangat karena sisa amarah di Bab 6 tadi. Di luar sini, udara tidak lagi berbau daging hangus. Udara berganti menjadi bau melati yang sangat busuk, bau bunga yang dipaksa mekar di atas liang lahat.

Lobi Kos Mukasyafah berubah lagi. Lorongnya memanjang, meliuk seperti usus besar yang sedang mulas. Lantainya bukan lagi ubin, tapi tumpukan rambut hitam panjang yang terasa kenyal dan licin saat kupijak. Gila. Setiap langkahku menimbulkan suara sret... sret... seperti ada seseorang yang sedang menyeret mayat di kegelapan.

"Siapa di sana?" suaraku gemetar, nyaris pecah.

Hening. Tapi di ujung lorong, aku melihat sosok itu lagi. Ratih.

Dia berdiri di bawah satu-satunya lampu gantung yang berayun pelan. Gaun sutranya yang mewah kini terlihat compang-camping, berat karena air yang terus menetes dari ujung kainnya. Tik... tik... tik... Bunyi tetesan air itu di atas lantai rambut terdengar sangat nyaring. Ratih tidak menoleh. Dia masih sibuk dengan jemarinya. Menggosok, mencuci, mengelupas kulit tangannya sendiri sampai merah dagingnya terlihat.

"Tolong..." bisiknya. Suaranya bukan keluar dari mulut, tapi dari balik genangan air di bawah kakinya. "Nodanya tidak mau hilang. Bau pujian ini... bau busuk ini tidak mau pergi."

Aku mendekat dengan ragu. "Ratih?"

Begitu aku menyebut namanya, dia berputar. Wajahnya cantik, jenis kecantikan yang biasa dipajang di sampul majalah bisnis yang sering dibaca Ibuku sambil pamer. Tapi matanya... matanya sudah digantikan oleh dua lubang hitam yang terus mengeluarkan air keruh.

Lihat selengkapnya