Pintu kaca di depanku tidak punya gagang. Ia hanya menunggu keberanianku untuk pecah. Aku menekankan telapak tanganku yang masih basah darah ke permukaannya, dan, nyes, kaca itu mencair, berubah jadi selaput lendir yang menelan tubuhku masuk ke dalam.
Bau di dalam sini beda lagi. Bau keringat asam, bau kertas yang membusuk karena lembap, dan bau tinta murahan yang tajamnya menusuk sampai ke paru-paru.
Ini pabrik.
Aku melihat ribuan meja tulis kayu yang berderet sampai ke ujung kegelapan yang tidak terjangkau mata. Di setiap meja, duduk sosok-sosok yang tadinya mungkin manusia. Sekarang? Mereka hanya kerangka kulit yang terbungkus sisa-sisa pakaian dinas, jas yang sudah rombeng, dan toga wisuda yang sudah berjamur. Mereka semua menulis. Cepat. Sangat cepat sampai suara gesekan pena di atas kertas terdengar seperti jutaan rayap yang sedang merobek kayu.
Sret... sret... sret...
"Jangan berhenti!" suara cambuk udara meledak di langit-langit.
Aku menoleh. Tidak ada penjaga. Cambuk itu adalah suara notifikasi ponsel raksasa yang melayang-layang di atas kepala mereka. Tiap kali ada bunyi ping!, mereka makin histeris menggoreskan pena.
Aku berjalan di antara barisan meja itu. Kakiku masih gemetar. Aku melihat seorang pria paruh baya di meja nomor 404. Dia memakai seragam bank yang kaku. Tangannya sudah tidak punya daging, hanya tulang yang menggenggam pulpen. Dia tidak menulis dengan tinta. Dia menulis dengan air mata yang berwarna hitam pekat.
"Tolong... satu halaman lagi..." bisiknya tanpa menoleh. "Ibuku mau aku jadi manajer. Kalau aku berhenti, dia akan mati di dalam kepalaku."