Aku mengerang. Pulpen tulang itu sedang berakar di telapak tanganku. Rasanya seperti ada ribuan ulat bulu listrik yang merayap masuk ke pembuluh darah, menuju jantung. Setiap detak jantungku sekarang dibarengi dengan hisapan, slurp... slurp…, sebuah mesin penghisap nyawa yang menyamar jadi alat tulis.
"Sialan! Lepas!" Aku mencoba mencabutnya dengan tangan kiri, tapi pulpen itu justru makin dalam membenamkan dirinya.
"Jangan dicabut, Sastra. Itu mahar untuk tinggal di sini," suara Mbah Jati muncul dari kolong tempat tidur, tapi kali ini bukan cuma suara. Kepalanya melongok keluar, matanya yang putih mutiara itu berkilat kena cahaya laptop yang masih memutar video Ayah.
"Mahar apa? Benda ini makan darahku!" teriakku, sambil menahan mual.
Mbah Jati merangkak keluar sepenuhnya. Dia sedang jongkok di pojok kamar seperti kodok raksasa. "Di luar sana, kau menulis untuk cari makan. Di sini, kau menulis agar tidak dimakan. Itu peraturannya. Berhenti menulis, maka kau akan jadi seperti pria bank di kamar sebelah: kerangka berbaju rapi yang naskahnya tamat sebagai batu nisan."
Aku menatap pulpen tulang itu. Warnanya mulai berubah, dari putih pucat jadi kemerahan, mengikuti aliran darahku yang pindah ke dalamnya.
"Tulis, Sastra. Lanjutkan bab tentang Ayahmu. Ceritakan bagian yang paling kau sembunyikan di bawah bantal. Ceritakan tentang saat dia mulai kehilangan akal di ladang cabai itu," perintah Mbah Jati. Suaranya sekarang terdengar seperti gesekan amplas di atas luka basah.
Aku terpaksa kembali ke meja daging. Kursi duri mawar itu menyambut pantatku dengan tusukan yang lebih dalam. Aku tidak punya pilihan. Aku letakkan telapak tangan yang tertancap pulpen itu di atas kertas kulit manusia.