Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #10

BAB 10: BAYANGAN YANG MENCOBA KABUR

Jam di dinding, yang tidak punya angka dan hanya punya satu jarum dari tulang manusia, berdentang tiga kali. Teng... teng... teng... Suaranya tumpul, seperti hantaman martil ke atas daging.

Pulpen tulang di tanganku mendadak berhenti menghisap. Ia sudah kenyang. Ia melepaskan akarnya dari pembuluh darahku dengan sekali sentakan kasar. Plok. Aku terjatuh dari kursi duri mawar, mendarat di atas lantai kulit yang sekarang terasa sangat dingin, sedingin ubin kamar jenazah.

Lalu aku melihatnya. Di bawah cahaya remang dari sisa ledakan laptop, bayanganku di dinding mulai bergerak sendiri.

Bayangan itu tidak lagi hitam pekat. Ia mulai berwarna kelabu, transparan, dan yang paling mengerikan: ia punya wajah. Wajahnya adalah wajahku, tapi tanpa beban. Wajah itu tersenyum mengejek ke arahku yang sedang terkapar lemas kehabisan darah.

"Mau ke mana kau?" bisikku parau.

Bayangan itu tidak menjawab. Ia mulai melepaskan diri dari tumitku. Ia merayap di dinding, menjauh dari tubuhku, menuju pintu. Ia ingin keluar. Ia ingin bebas dari penjara naskah ini, meninggalkan aku sebagai raga kosong yang akan membusuk jadi bagian dari dinding kulit kamar nomor 13.

"Jangan... jangan tinggalkan aku..."

Aku mencoba merangkak, tapi tanganku yang luka malah meninggalkan jejak merah yang panjang di lantai. Punggungku terasa hampa. Ada bagian dari jiwaku yang robek saat bayangan itu benar-benar terlepas. Aku sekarang adalah makhluk tanpa hitam di bawah kaki. Aku adalah anomali di alam semesta.

Tiba-tiba, aku teringat peringatan Mbah Jati: Jangan melihat ke bawah tempat tidurmu jam tiga pagi.

Lihat selengkapnya