Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #11

BAB 11: PERPUSTAKAAN TANPA HURUF

Aku melangkah melewati ambang pintu kaca yang berembun, dan seketika itu juga, suara bising dari lobi tersedot habis. Sunyi di sini adalah sunyi yang memiliki berat, yang menekan gendang telingaku sampai terasa mau pecah. Udara tidak lagi berbau daging hangus, berganti menjadi aroma apek sumsum tulang yang dipaksa menjadi lem buku dan kertas lembap yang gagal disamak.

Rak-rak kayu hitam yang menjulang tinggi hingga menghilang di balik kabut langit-langit laksana deretan nisan raksasa. Ribuan buku berjajar rapi, tapi tak ada satu pun judul di punggungnya. Semuanya putih pucat, polos seolah kulit mayat yang baru saja selesai diformalin.

"Jangan cari daftar isi, Sastra. Di sini, pengetahuan tidak dibaca lewat mata, tapi lewat luka," suara Ratih bergema dari balik rak nomor sembilan.

Aku menemukannya sedang bersila di atas lantai kayu yang mulai ditumbuhi jamur-jamur kecil berbentuk telinga manusia. Dia sedang meraba sebuah buku tebal yang terbuka. Ratih tidak sedang membaca, dia sedang mengelupas permukaan kertas kosong itu dengan jemarinya yang masih merah dan tanpa kulit.

Lihat selengkapnya