Aku kembali ke kamar nomor 13 dengan napas yang sisa satu-satu. Bau melati dari lorong tadi mendadak lenyap, berganti menjadi aroma yang jauh lebih mencekik: perpaduan bedak murahan dan keringat dingin Ibu. Kamar ini sudah bersolek. Dinding kulitnya sekarang ditumbuhi ribuan bibir kecil yang bergumam tanpa henti, menyerukan angka-angka utang, harga cabai, dan prestasi anak-anak tetangga.
Pulpen tulang di tanganku berdenyut, seirama dengan jariku yang kuku telunjuknya baru saja kutinggalkan sebagai tumbal di perpustakaan. Rasanya seperti ada ulat api yang merayap di sumsum tulangku.
"Tulis, Sastra. Jangan biarkan mulut-mulut itu memakanmu lebih dulu," suara Mbah Jati terdengar dari bawah tempat tidur. Kali ini, sebuah tangan pucat dengan jari-jari panjang keluar dari kolong, menunjuk ke arah meja daging.
Aku duduk. Kursi duri mawar itu kini terasa seperti ribuan jarum akupunktur yang menusuk langsung ke saraf benciku. Aku letakkan telapak tangan di atas kertas kulit manusia yang masih basah oleh darah dari bab sebelumnya.
Aku tulis: "Ibu adalah arsitek dari semua rasa rendah diri yang kupunya. Dia tidak membangun rumah; dia membangun penjara dari kata 'seharusnya'."
Begitu kalimat itu selesai, sebuah lidah merah muda yang panjang dan basah keluar dari celah dinding. Lidah itu meliuk seperti ular, lalu Crat! Ujungnya yang tajam menyabet bahuku. Perihnya bukan main. Bukan cuma kulitku yang robek, tapi memoriku tentang sebuah sore saat Ibu membuang buku ceritaku karena dianggap tidak akan menghasilkan uang, mendadak berputar kembali seperti kaset rusak.