Pukul 03:00 tepat.
Dunia di luar kamar nomor 13 seolah-olah berhenti berputar, menyisakan keheningan yang lebih berat daripada timah. Jam dinding kayu di atas pintu tidak lagi berdetak; ia berdentum, menggetarkan tulang-tulang rusukku yang sudah terasa rapuh. Setiap dentuman itu merontokkan plesteran langit-langit yang kini berubah menjadi tumpukan kerikil tajam dan nasi merah yang mulai membusuk.
Aku teringat tas sekolahku dulu. Tas yang beratnya bukan karena tumpukan buku sastra, melainkan karena batu-batu yang ditaruh diam-diam di dalamnya saat insiden di Pantai Krakal. Beban itu bukan sekadar benda mati; itu adalah simbol dari semua harapan orang tua yang memaksaku tenggelam sebelum sempat belajar berenang.
"Tulis, Sastra! Sebelum dia naik!" Mbah Jati memekik dari balik pintu yang terkunci rapat. Suaranya pecah, ada ketakutan yang tulus di balik mata putih mutiaranya yang biasanya dingin.
Di bawah tempat tidur, sesuatu mulai bergerak. Suaranya bukan lagi gesekan pelan, melainkan bunyi kuku-kuku panjang yang dipaksakan masuk ke dalam daging kayu lantai. Bau amis darah segar mengalahkan aroma deterjen dari lidah Ibu di bab sebelumnya. Pulpen tulang yang menancap di telapak tanganku mendadak membara, suhunya naik hingga aku bisa mencium bau kulitku sendiri yang mulai terpanggang. Syarafku terasa seperti ditarik paksa keluar melalui lubang luka itu.
Aku memaksakan jemariku yang sudah tidak berkuku sebagai tumbal dari perpustakaan tadi untuk bergerak di atas kertas kulit manusia yang masih haus. Darahku menyembur, meresap ke dalam pori-pori kertas, memberikan warna merah yang paling pekat pada kalimat terakhir untuk Ibu. Kalimat yang akan memutus tali pusar tak kasat mata yang selama ini mencekik leherku.
"Aku tidak pernah membencimu karena kau gagal menjadi Ibu; aku membencimu karena kau memaksaku menjadi cermin untuk memuja dirimu yang kau benci sendiri."
BRAK!
Seluruh kamar nomor 13 terguncang hebat, seolah-olah dunia sedang dibalikkan oleh tangan raksasa. Gravitasi menghilang. Aku melayang di antara ribuan lembar ijazah S1 Sastra Indonesia milikku yang kini berubah menjadi pisau-pisau kertas yang tajam dan berkilauan. Lidah-lidah yang tadi menjuntai di dinding menjerit pilu, lalu layu dan menghitam seperti tanaman cabai yang terserang hama busuk di ladang Ayah.
Lalu, sunyi. Sunyi yang jauh lebih mengerikan daripada ledakan mana pun.
Aku terbanting kembali ke lantai. Pulpen tulang itu lepas dari tanganku, meninggalkan lubang menganga di telapak yang kini tidak lagi terasa sakit, hanya menyisakan kekosongan yang dingin. Kertas kulit itu sudah penuh. Tulisan merahku di sana berdenyut, hidup, dan mulai mengeluarkan suara napas yang teratur.