Dunia di balik pintu 26 Maret adalah sebuah tenggorokan raksasa yang sangat luas. Dinding-dindingnya adalah pita suara yang bergetar rendah, mengeluarkan dengung frekuensi yang membuat gigiku ngilu. Lantainya adalah lidah raksasa yang masih basah dan hangat.
Aku melangkah maju. Tanganku yang terbalut kain kafan merah berdenyut seirama dengan detak jantung tempat ini.
Di tengah ruangan yang menyerupai rahim kaca ini, terdapat sebuah meja tulis dari kristal murni yang bening. Di atasnya tergeletak sebuah kartu identitas yang memancarkan cahaya biru pucat. Aku mendekat dan membaca tulisan di sana: Toriff Wilson.
Foto di kartu itu tidak diam. Sosok di dalam foto itu tampak sedang berteriak tanpa suara, air matanya berubah menjadi tinta hitam yang meluap keluar dari bingkai plastik kartu tersebut.
Aku menatap kartu itu sekali lagi. Nama Toriff Wilson terasa berat di lidah, seperti koin logam yang berkarat. Selama ini, nama itu adalah baju zirahku untuk menghadapi dunia, sebuah topeng yang kubangun dengan riset kata kunci dan algoritma. Tapi di ruangan ini, topeng itu mencair, meninggalkan kekosongan yang selama ini coba kututupi dengan gelar dan agensi.