Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #15

BAB 15: PENYEMBELIHAN SANG ALGORITMA

Aku meneguk isi botol itu. Rasanya asin, berkarat, dan panas, seperti menelan peluru yang baru saja ditembakkan. Seketika, rasa sakit di telapak tanganku yang berlubang memudar, digantikan oleh mati rasa yang menjalar hingga ke jantung.

"Bagus. Sekarang, lihat ke cermin itu, Toriff Wilson," Mbah Jati berbisik, suaranya kini terdengar seperti derit pintu sel yang berkarat.

Aku melangkah menuju cermin besar di ujung ruangan lidah ini. Namun, yang terpantul di sana bukan wajahku. Di dalam cermin itu berdiri sebuah makhluk yang terbuat dari ribuan potongan kertas kontrak, grafik SEO yang naik-turun, dan barisan kode pemrograman yang terus berkedip. Wajahnya adalah topeng porselen yang selalu tersenyum, senyum yang biasa kugunakan saat meyakinkan klien atau kurator.

Inilah monster yang kupelihara selama tiga puluh tahun. Monster yang kubangun sejak 26 Maret 1996 untuk menyembunyikan retakan di jiwaku.

"Dia cantik, bukan?" Mbah Jati tertawa, medali di lehernya berdenting ngeri. "Dia adalah versi dirimu yang disukai dunia. Dia patuh, dia profesional, dan dia tidak pernah merasa sakit. Tapi dia tidak punya nyawa."

Makhluk di dalam cermin itu mulai bergerak. Ia keluar dari bingkai, merangkak di atas lantai lidah dengan gerakan yang patah-patah. Tangannya yang berupa pena tajam mengarah tepat ke leherku.

Lihat selengkapnya