Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #16

BAB 16: PINTU KELAHIRAN KEMBALI

Aku berdiri di depan pintu kayu bertuliskan 26 Maret. Kunci emas bermata manusia itu berdenyut hangat di telapak tanganku yang masih terbungkus kain kafan merah. Mata pada kunci itu berkedip pelan, menatapku dengan tatapan yang seolah bertanya apakah aku benar-benar siap meninggalkan semua beban ini.

Pintu itu tetap bergeming. Ia tidak mau menerima kunci sebelum beban di pundakku dilepaskan. Pintu ini menuntut ruang kosong di dalam jiwaku sebelum mengizinkanku lewat.

"Kau tidak bisa membawa beban yang bukan milikmu ke dunia yang baru, Toriff," suara Mbah Jati terdengar untuk terakhir kalinya, kini lembut seperti bisikan angin di antara pohon alpukat.

Aku melepas tali tas sekolah tua itu, tas yang selama tiga puluh tahun ini telah meninggalkan bekas luka permanen di bahuku. Aku membuka ritsletingnya yang berkarat. Di dalamnya, batu-batu dari Pantai Krakal itu kini tampak seperti kristal beku yang menyimpan rekaman suara: air mata Ibu, kemarahan Ayah, dan semua angka statistik yang pernah memenjarakan kreativitas serta gelar profesional milikku.

Klontang.

Lihat selengkapnya