Dingin. Rasa dingin itu pertama kali merayap dari ujung jari, lalu menghujam tepat ke tengah telapak tangan kananku.
Aku terbangun oleh bau tanah makam yang menyengat dari selembar kain kafan merah yang tergeletak di atas meja kerja. Catatan di sudut kain itu, "Jangan lupa bayar kos bulan depan, Toriff", berdenyut seirama dengan bekas luka lubang kunci di tanganku. Sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela tidak terasa hangat; ia hanya memperjelas debu-debu yang menari di atas layar laptopku yang masih gelap.
Aku menarik kursi, mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah realitas yang aman. Namun, saat layar laptop menyala, yang kulihat bukan wallpaper pemandangan, melainkan dasbor agensi Toker yang berubah total.
Grafik performa konten yang biasanya berwarna hijau kini merah darah, terjun bebas menuju angka nol. Di kolom keyword, ribuan baris teks bergerak liar, berganti-ganti secara otomatis: "SELAMATKAN", "TIGA PULUH TAHUN", "DRAF SALAH".
"Waktunya optimasi, Toriff," sebuah suara desisan muncul dari lubang kipas laptop, panas dan bau tembakau sisa Mbah Jati.