Ponselku berdering. Bukan nada dering standar, melainkan suara gesekan batu Pantai Krakal yang saling beradu. Di layar, sebuah panggilan masuk tanpa nomor. Hanya ada satu baris teks yang berkedip: Incoming Meeting - Client: The Founder.
Aku ragu untuk menggeser tombol jawab, namun telapak tanganku yang berlubang kunci menempel sendiri ke layar. Seketika, kamar kosku yang sempit meluas. Dinding-dindingnya berubah menjadi deretan pelayan server yang berdegup layaknya jantung raksasa.
"Selamat pagi, Toriff Wilson," suara itu berat, seperti tumpukan naskah basah yang dijatuhkan ke lantai.
Di hadapanku, sebuah proyeksi hologram muncul. Sosok itu mengenakan seragam guru yang rapi, namun wajahnya adalah kumpulan grafik SEO yang terus bergejolak. Ia adalah manifestasi dari ekspektasi dunia terhadap gelar S.S., Gr. yang kusandang.
"Kami butuh optimasi untuk proyek terbaru," lanjutnya sambil menyodorkan sebuah Brief digital yang melayang di udara. "Nama proyeknya: Penghapusan Sastra."
Aku gemetar. Di dalam dokumen tersebut, aku melihat rencana strategis untuk mengubah seluruh narasi dalam Aroma Lada di Tanah Merah menjadi artikel-artikel clickbait yang hambar. Mereka ingin membunuh kejujuranku sebagai penulis dan menggantinya dengan algoritma yang paling laku di pasar.
"Aku tidak bisa melakukan ini," bisikku. "Ini adalah naskah terakhirku."
"Kau sudah menandatangani Addendum di Sasmita, Toriff. Di usia tiga puluh tahun ini, kau bukan lagi pemilik kepalamu sendiri," sosok itu mendekat. Tangannya yang berupa barisan kode pemrograman menyentuh bahuku, terasa dingin dan menyengat.