Aku melangkah keluar dari kamar dengan kepala yang terasa seperti baru saja dihantam palu godam. Bau tanah merah dari jendela tadi pagi telah menguap, digantikan oleh aroma tajam plastik terbakar dan ozon yang menyesakkan. Langkahku berat; setiap sentuhan kakiku pada lantai semen terasa seperti menekan tombol keyboard yang keras.
Di ruang tengah, aku melihat kakak perempuanku sedang duduk membelakangiku. Aku hendak menyapanya, namun saat dia menoleh, wajahnya tidak lagi memiliki fitur manusia yang kukenal. Matanya adalah dua lubang hitam yang memancarkan cahaya biru interface laptop, dan bibirnya bergerak tanpa suara, hanya mengeluarkan baris teks berjalan di udara: "10 Cara Efektif Menjadi Kakak yang Produktif".
"Mbak?" bisikku ngeri.
Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menyerahkan segelas kopi yang rasanya bukan lagi seperti kafein, melainkan seperti tinta printer yang kental dan pahit. Aku membuang muka, berlari menuju pintu depan. Aku harus menemukan oksigen yang asli. Aku harus menemukan aroma lada yang nyata.