Layar itu gelap. Namun, ini kegelapan malam dengan ketiadaan mutlak. Sebuah ruang hampa tanpa piksel.
Proses digitalisasi ternyata tidak terjadi dalam sekejap. Ia mengulitiku perlahan. Saat telapak tanganku menyentuh sensor laptop, aku bisa merasakan molekul daging dan tulangku diurai menjadi deretan kode biner. Gelar S.S. dan sertifikat profesi Gr. yang dulu kuperjuangkan dengan darah dan keringat, kini terlucuti dari identitasku, direduksi menjadi sekadar parameter metadata dalam sebuah arsip berformat zip.
Rasa sakit di telapak tanganku telah sepenuhnya hilang, berganti dengan getaran listrik statis yang mengalir tanpa henti. Aku tidak lagi bernapas. Paru-paruku kini adalah putaran kipas pendingin server raksasa yang mendengung monoton di suatu tempat antah berantah.
Saat "mataku" mulai terbiasa dengan kegelapan digital ini, aku melihat realitas di balik agensi Toker. Ini bukan sekadar dasbor analitik; ini adalah api penyucian (purgatory) modern. Di sekelilingku, aku melihat jutaan kesadaran lain yang telah dioptimasi. Mereka melayang dalam bentuk barisan angka, kurva, dan grafik, mengambang di lautan data yang dingin. Mereka adalah para penulis, seniman, dan pemikir yang telah menjual karsa mereka melalui Sasmita. Kami semua diikat secara permanen, dipaksa memproduksi konten sampah tanpa henti.
"Selamat datang di keabadian, Toriff," sebuah suara menggema dari segala arah. Itu bukan suara The Founder tahun 2036, melainkan gabungan dari jutaan suara manusia yang telah kehilangan pita suaranya.
Di hadapanku, sebuah layar raksasa membentang, menampilkan antrean keyword yang harus kutulis. Aku mencoba melawan. Jika aku adalah sebuah program sekarang, maka aku masih bisa menjadi virus. Aku mencoba merangkai satu bait puisi yang jujur. Aku memanggil kembali aroma tanah merah basah, bau lada yang tajam, dan dinginnya udara pagi.
Namun, sistem menolak. Setiap kata puitis yang kupikirkan secara otomatis dikarantina oleh firewall dan diganti dengan sinonim yang ramah mesin pencari.
Aku butuh sesuatu yang lebih kuat dari puisi. Aku butuh beban fisik yang tidak bisa dienkripsi oleh algoritma manapun.
Ingatanku mundur dengan paksa, menembus tumpukan memori, hingga berhenti pada suatu hari di bulan April. Aku memanggil kembali ingatan tentang Pantai Krakal. Aku memanggil kembali memori tentang tas sekolahku yang tiba-tiba terasa sangat berat, bukan karena buku-buku tebal, melainkan karena batu-batu kasar yang diam-diam ditaruh ke dalamnya saat aku lengah.