Sebulan sejak laptopku hangus, benda itu kubiarkan tergeletak di sudut kamar kos. Bangkai plastik dan silikon itu telah menjelma menjadi batu nisan bagi Toriff Wilson, CEO fiktif yang mati tertelan algoritmanya sendiri.
Pagi ini, langit Kulon Progo membentang biru bersih. Aku berada di Kriyan, Kokap, berdiri di atas hamparan tanah merah. Tanganku sibuk mengayunkan cangkul, membantu Ayah menanam bibit-bibit alpukat. Otot-otot lenganku menegang, merespons beban fisik yang membebaskan. Tidak ada lagi halusinasi tentang daun yang menyamar jadi piksel, atau urat-urat tanah yang menuntut metrik optimasi.
Kuseka keringat di dahi dengan lengan baju. Kapalan di ujung jariku masih menebal, sisa dari pertarungan panjang melawan tuts keyboard. Namun, saat aku membuka telapak tangan, lubang kunci hitam itu telah hilang tanpa bekas. Bekerja dengan tanah basah yang berbau sisa hujan semalam benar-benar mengembalikan kewarasanku seutuhnya.
Ponsel di saku celanaku bergetar panjang.
Aku menghentikan ayunan cangkul, merogoh saku, dan mengusap layar ponsel dengan tangan yang masih berlumur tanah. Sebuah notifikasi surel masuk. Pengirimnya adalah panitia kompetisi menulis sastra nasional.
Jantungku berdegup. Ini adalah balasan untuk naskah Novela Kos Mukasyafah, draf berdarah yang kulempar paksa dari ambang kehancuran server waktu itu. Aku menahan napas, membuka pesannya, dan membaca baris demi baris keputusan dewan juri yang diketuai oleh seorang pendekar prosa dan seorang puan penyair yang suaranya meneduhkan.