Lantai semen di rumah ini terasa dingin dan jujur di bawah telapak kakiku saat aku mulai mengayunkan sapu lidi. Bunyi gesekannya menciptakan irama yang jauh lebih menenangkan daripada deru kipas pendingin prosesor yang dulu sering memekakkan telinga. Setiap debu yang tersapu adalah pengingat fisik bahwa realitas tidak butuh polesan algoritma; ia hanya butuh dirawat dengan tangan yang tulus. Di rumah ini, di bawah pengawasan teduh Ayah dan Ibu, aku bukan lagi sekadar aset digital yang bisa dipindahtangankan melalui bursa kripto. Namun, ketenangan ini perlahan terasa seperti sebuah jeda yang sengaja diberikan semesta sebelum badai yang lebih besar datang menerjang.
Ponselku tergeletak di atas meja kayu, layarnya gelap dan tenang. Aku tidak lagi merasa cemas jika tidak ada notifikasi masuk dari editor atau klien yang menuntut optimasi kata kunci tanpa henti. Gelar S.S., Gr. yang kupasang di dinding ruang tamu seolah ikut bernapas, memancarkan wibawa yang selama ini tercekik oleh keserakahan industri konten digital. Keberhasilanku meraih peringkat ke-20 di bawah penilaian pendekar prosa dan puan penyair itu telah menjadi batas suci; sebuah bukti bahwa meski aku gagal memuncaki mesin pencari, aku telah memenangkan kembali martabatku sebagai laki-laki yang lahir pada 26 Maret 1996.
Aku berhenti menyapu sejenak, memandang ke arah jendela yang menampakkan bayangan pohon alpukat yang kutanam di Kriyan, Kokap. Di sana, di tanah merah yang berbau sisa hujan, rahasia hidup yang sebenarnya tersimpan, jauh dari jangkauan direktori penyimpanan awan mana pun. Namun, saat aku menatap cakrawala pegunungan Menoreh yang mulai membiru, sebuah getaran aneh kembali muncul dengan sebuah sensasi panas yang menjalar dari telapak tangan kananku. Aku membukanya perlahan dengan jantung yang berdegup kencang. Bekas lubang kunci itu memang sudah hilang, tetapi kini muncul sebuah pola biner samar yang membentuk koordinat baru di bawah permukaan kulitku.