Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #26

BAB 26: KOORDINAT DI BALIK DINDING PUSKESMAS

Di bawah pendar lampu neon kamar, pola biner samar itu membentuk serangkaian angka yang berdenyut lembut, seirama dengan detak nadiku. Pola itu bukan lagi logo agensi atau kode program Sasmita yang kasar, melainkan baris koordinat geografis. Sebuah jejak digital yang ditanamkan secara presisi saat naskahku menembus benteng server tempo hari.

Pagi harinya, aku memilih untuk tidak menyentuh gawai. Aku menyusuri jalanan Kokap yang masih diselimuti kabut tipis. Tanah basah yang kupijak terasa menancap kuat pada realitas, namun pikiran-pikiranku mulai memetakan angka-angka yang terukir di tanganku. Koordinat itu tidak mengarah ke Jakarta, tidak pula ke markas besar agensi mana pun di ibu kota. Titik itu berhenti di sebuah bangunan tua berjarak tiga kilometer dari rumahku, bekas bangunan puskesmas pembantu yang sudah mangkrak sejak awal tahun 2020-an.

Mengapa sebuah sistem algoritma tingkat tinggi meninggalkan jejak di sudut Kulon Progo yang sepi?

Aku sampai di depan pagar besi yang meranggas oleh karat. Rumput liar tumbuh tinggi menutupi teras semen yang retak. Tempat ini seharusnya mati, sebuah ruang kosong yang dilupakan oleh dinas kesehatan setempat. Namun, saat aku melangkah mendekati jendela kayu yang tak berkaca, ada sesuatu yang ganjil. Bau udara di tempat ini bukan bau debu atau kotoran kelelawar. Ada aroma ozone, bau khas yang keluar dari ruangan berpendingin udara yang menampung puluhan unit komputer berdaya tinggi.

Lihat selengkapnya