Pesan singkat itu terpampang di layar ponselku, memantulkan cahaya pucat yang menerpa jemariku di hadapan dinding puskesmas tua yang lengang. "Peringkat ke-20 bukan batas akhir, Arief. Itu adalah tawaran untuk bergabung dengan dewan kurator baru."
Angin sore dari perbukitan Menoreh berembus menerobos semak-semak liar, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Aku tidak langsung membalas pesan itu. Di dalam ruangan gelap di balik jendela berjeruji, deru kipas pendingin rak server itu mendadak meninggi, seolah merespons sinyal yang baru saja dikirimkan kepadaku. Mesin-mesin itu tahu aku ada di sini. Mereka bukan lagi sekadar sistem otomatis, melainkan entitas yang mengawasi setiap langkah gerak fisikku.
Aku bergeser dari jendela, merapat ke dinding semen yang kasar untuk menghindari sorotan. Tanganku menggenggam pena hitam di dalam saku celana, satu-satunya senjata simbolis yang kumiliki untuk melawan logika digital yang dingin ini.
Ponselku kembali bergetar. Kali ini bukan pesan teks, melainkan panggilan suara masuk dari nomor yang sama. Layar ponsel berkedip menampilkan tulisan Incoming Call... tanpa nama.
Dengan tarikan napas panjang, aku menggeser tombol hijau dan mendekatkan layar ke telinga.
"Kau datang lebih cepat dari perkiraan algoritma kami, Arief Rahmanto," suara di ujung sana menyapa. Suara itu terdengar datar, bersih dari emosi, nyaris seperti sintesis suara buatan (text-to-speech), namun memiliki intonasi yang begitu presisi. "Atau haruskah kami memanggilmu sang penyintas dari Kos Mukasyafah?"