Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #28

BAB 28: KEPULANGAN YANG DIAWASI

BAB 28: KEPULANGAN YANG DIAWASI

Langkah kakiku terasa berat menapaki jalan setapak tanah merah yang meliuk-liuk turun dari perbukitan Kokap. Ancaman dari ujung sambungan telepon tadi masih bergidik di dalam kepala, berkejaran dengan denyut panas yang kian nyata di telapak tangan kananku. Simpul-simpul digital itu tidak lagi bersembunyi di balik layar komputer atau agensi maya yang jauh di ibu kota; mereka telah merayap masuk ke ruang hidupku, membidik tanah kelahiran dan keluargaku sebagai sandera.

Saat aku tiba di pekarangan rumah, suasana tampak tenang. Lampu teras sudah menyala, memancarkan cahaya kuning hangat yang menimpa barisan pot bunga milik Ibu. Dari dalam rumah, samar-samar terdengar suara derap langkah ringan dan suara televisi yang menyiarkan berita malam.

Aku berhenti sejenak di ambang pintu, menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir gemuruh di dadaku. Aku tidak boleh membawa ketakutan ini ke dalam rumah. Ayah dan Ibu tidak tahu apa-apa tentang jaringan server parasit di puskesmas tua, dan aku bertekad untuk memastikan mereka tidak akan pernah tahu.

"Sudah pulang, Le? Mandi dulu sana, air hangatnya sudah disiapkan Ibulah," sapa Ayah dari ruang tengah, suaranya yang tenang seketika meredakan ketegangan di urat-urat leherku.

Lihat selengkapnya