Malam di Kokap merangkak menuju titik paling senyap. Suara jangkrik dari arah kebun alpukat terdengar ritmis, menyisir udara pegunungan yang dingin dan lembap. Di ruang tengah, dengkur halus Ayah telah menyatu dengan keheningan, menandakan bahwa denyut kehidupan organik di rumah ini tengah beristirahat sepenuhnya. Namun, di dalam kamarku, sebuah peperangan dengan dimensi yang sama sekali berbeda baru saja dimulai.
Aku duduk bersila di atas ranjang, bertatap muka dengan layar ponsel yang memancarkan cahaya abu-abu redup. Aplikasi tanpa nama itu masih setia menanti. Kursor tunggal berkedip statis di bawah tulisan System Prompt: Awaiting Input, menyerupai detak jantung sebuah mesin raksasa yang sedang kelaparan. Di telapak tangan kananku, pendar amber hitung mundur itu berdenyut semakin cepat, mengingatkan bahwa toleransi waktu yang diberikan oleh dewan kurator Sasmita hampir habis.
Mereka menuntut kepatuhan. Algoritma itu menunggu kursor ini diisi dengan persetujuan biner, sebuah "Ya" untuk menyerahkan kehendak bebanku, atau sebuah "Tidak" yang akan memicu penghapusan total identitasku dari indeks realitas.
Tetapi mereka meremehkan satu hal mendasar: aku adalah seorang sarjana sastra yang lahir pada 26 Maret 1996. Aku tumbuh dari peradaban teks yang bernapas, bukan dari baris kode yang kaku. Aku tahu bahwa senjata paling mematikan bagi sebuah mesin pembaca logika adalah paradoks emosi.
Alih-alih mengetikkan perintah persetujuan, aku mulai menyentuh keyboard virtual di layar ponselku. Aku tidak menggunakan bahasa pemrograman. Aku menggunakan bahasa manusia, bahasa yang penuh dengan ambiguitas, metafora gelap, dan rasa sakit yang tidak memiliki padanan metrik.
Kutuliskan sebuah paragraf yang bertentangan dengan semua kaidah optimasi SEO (Search Engine Optimization):