Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #30

BAB 30: ABU SILIKON DAN JEJAK BARU

Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi kamar, menyapu layar ponselku yang kini hanyalah kepingan kaca dan logam mati. Malam panjang yang menguras energi psikologis itu telah berlalu, menyisakan keheningan yang terasa berbeda, sebuah ketenangan yang lahir dari kemenangan kecil. Telapak tangan kananku, yang semalam menjadi kanvas bagi hitung mundur berwarna amber, kini bersih tanpa bekas. Pola biner dan sisa lubang kunci itu lenyap seiring dengan hancurnya pelacak digital yang ditanamkan dewan kurator.

Di ruang makan, aroma kopi hitam dan singkong rebus menyambutku. Ayah sedang duduk di kursi kayu, melipat koran pagi sambil menyeruput kopinya pelan.

"Semalam kamu dengar suara ledakan, Le?" tanya Ayah tanpa menoleh. "Kata Pak Dukuh, trafo listrik di dekat bangunan puskesmas lama itu meledak. Aneh betul, padahal tempat itu sudah tahunan kosong, tidak ada saluran listrik yang aktif."

Aku menarik kursi dan duduk di seberang Ayah, menjaga ekspresi wajahku setenang mungkin. "Mungkin ada kabel tua yang korslet, Yah," jawabku sambil meraih sepotong singkong.

Fakta bahwa ledakan itu diakibatkan oleh paradoks metafora yang kusuntikkan ke dalam sistem algoritma bernilai miliaran rupiah adalah rahasia yang akan kubawa sendiri. Dunia organik Ayah yang damai dengan kebun alpukatnya tidak boleh tercemar oleh peperangan siber ini.

Lihat selengkapnya