Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #31

BAB 31: ENKRIPSI DAN MESIN JAHIT DI KOTA KEDUA

Sisa abu silikon masih menempel di ujung kuku telunjukku saat aku kembali mengunci pintu kamar. Di atas meja kayu, modul solid-state drive (SSD) bercangkang titanium itu tergeletak bisu, memantulkan cahaya matahari siang dengan dingin. Protokol Surabaya - Inisiasi. Tiga kata yang terukir di permukaannya itu terus bergaung di kepalaku, membangunkan naluri protektif yang jauh lebih purba daripada algoritma mana pun.

Masalah pertamaku adalah akses. Laptopku sudah menjadi monumen hangus, dan ponselku mati total akibat lonjakan overload semalam. Untuk membaca isi modul ini, aku membutuhkan mesin yang belum terkontaminasi oleh jaringan internet atau ekosistem Sasmita.

Aku menunduk, menarik laci paling bawah dari lemari pakaian. Di balik tumpukan map berisi fotokopi ijazah S.S. dan sertifikat pendidik Gr., terdapat sebuah netbook usang keluaran sepuluh tahun lalu. Baterainya sudah mati, jadi aku harus menyolokkannya langsung ke stopkontak. Sistem operasinya sudah sangat tertinggal, butuh waktu hampir tiga menit hanya untuk memuat layar beranda yang menampilkan wallpaper logo kampus lamaku. Ini adalah perangkat yang sempurna: lambat, bodoh, dan sepenuhnya terputus dari dunia maya.

Aku menyambungkan modul titanium itu menggunakan kabel adaptor tua. Terdengar bunyi klik mekanis yang pelan. Layar netbook berkedip, memunculkan jendela direktori baru.

Dugaanku benar. Modul penyintas ini memiliki sistem pertahanan mandiri, tetapi benteng firewall-nya retak parah akibat injeksi "virus sastra" yang kulepaskan dari Kokap semalam. Beberapa folder inti tidak lagi terkunci. Aku membuka salah satu direktori berlabel Target_Acquisition_02.

Napas tertahan di tenggorokanku.

Lihat selengkapnya