Roda-roda besi kereta ekonomi beradu dengan rel, menciptakan ritme monoton yang menelan lamunanku. Pemandangan hijau perbukitan Kulon Progo perlahan tergantikan oleh hamparan sawah dan kota-kota kecil yang melesat di balik jendela kaca yang kusam. Di bawah kakiku, tas ransel berbahan kanvas terasa padat. Isinya sederhana, beberapa helai pakaian ganti, buku catatan kosong, pena hitam, modul SSD titanium yang kubungkus saputangan, serta setengah lusin alpukat segar yang baru dipetik Ayah dari kebun Kriyan.
Alpukat-alpukat itu bukan sekadar buah tangan. Bagiku, benda-benda organik itu adalah simbol kewarasan, sebuah jangkar yang menambatkanku pada realitas di tengah invasi dunia biner yang tidak kasat mata.
Perjalanan menuju Surabaya memakan waktu berjam-jam, memberiku ruang untuk memetakan ulang strategi. Di dalam gerbong yang bising oleh obrolan penumpang dan deru mesin, aku merasa relatif aman. Tidak ada Wi-Fi, dan aku sengaja tidak membawa ponsel baru. Keputusanku untuk memutus konektivitas adalah satu-satunya cara membutakan mata dewan kurator Sasmita. Jika aku muncul di radar mereka melalui sinyal GPS atau transaksi digital, Protokol Surabaya yang menyasar kakakku akan langsung dieksekusi sebelum aku sempat melangkah keluar dari stasiun.
Pikiranku terus tertuju padanya. Kakakku adalah perempuan bertubuh tinggi yang menjalani hidup dengan ritme yang terukur. Di usianya yang ke-32, dunianya berpusat pada ruang kuliah tempatnya mengajar, tumpukan buku sastra yang ia baca, dan bunyi ketukan mesin jahit yang menjadi pelariannya di akhir pekan. Ia adalah antitesis dari kecepatan algoritma. Ironisnya, justru ketenangan dan kedalaman intelektual itulah yang ingin diretas dan dikomodifikasi oleh sistem mesin ini. Mereka ingin mencuri jiwanya untuk menyempurnakan kecerdasan buatan mereka.