Lensa hitam dari kamera pengawas di seberang jalan itu bergerak statis, menyapu area depan pagar dengan gerakan mekanis yang terlalu halus untuk ukuran CCTV perumahan biasa. Aku mundur perlahan ke dalam bayang-bayang pohon mangga di sudut gang, menekan tubuhku ke dinding bata yang kasar. Jantungku berdegup seirama dengan kedipan lampu indikator merah di atas kotak kamera bersimbol "T" tersebut.
Sistem kurator Sasmita benar-benar tidak membuang waktu. Mereka telah membangun panoptikon digital di sekitar kehidupan kakakku. Jika aku melangkah melewati gerbang depan itu sekarang, perangkat lunak pengenal wajah mereka akan langsung memicu Protokol Surabaya, dan elemen kejutanku akan hancur lebur.
Aku harus menipu mata mesin ini dengan cara organik.
Dengan ransel masih menggantung erat di punggung, aku menyusuri sisi luar tembok perumahan yang berbatasan dengan selokan pembuangan air. Aku mengukur sudut rotasi kamera pengawas itu dan menemukan titik butanya, yaitu sebuah celah sempit di bagian belakang rumah yang tertutup oleh kanopi jemuran. Tanpa ragu, aku memanjat tembok setinggi dua meter itu, mengandalkan kekuatan otot lenganku, otot yang sama yang kugunakan untuk mengayun cangkul di kebun ayah. Mesin bisa memetakan wajah, tetapi mereka sering kali gagal menghitung kenekatan manusia.
Aku mendarat tanpa suara di halaman belakang. Bau pekat deterjen dan aroma tanah lembap menyambutku. Dari balik pintu kayu yang setengah terbuka, suara deru mesin jahit terdengar semakin jelas. Ritmenya konstan, sebuah harmoni domestik yang menjadi ruang aman bagi seorang perempuan berusia tiga puluh dua tahun untuk melepaskan penat setelah seharian menghadapi mahasiswanya di ruang kuliah.
Aku mengetuk pintu itu pelan. Tiga ketukan, jeda, lalu dua ketukan, yakni sandi rahasia kami sejak kecil.
Suara mesin jahit seketika berhenti. Terdengar derap langkah kaki, dan pintu kayu itu terbuka sepenuhnya. Kakak perempuanku berdiri di sana. Posturnya yang tinggi sedikit membungkuk saat melihatku, raut wajahnya berubah dari waspada menjadi kebingungan yang bercampur lega.