Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #34

BAB 34: OPERASI SENYAP DI ATAS MEJA KAYU

Kakakku kembali dari ruang tengah, membawa secangkir teh seduh yang mengepulkan aroma melati dan sebuah gunting jahit berbahan besi padat. Gunting peninggalan almarhumah nenek itu terasa dingin dan berat saat berpindah ke tanganku, dengan ujung bilah yang sangat runcing dan presisi.

"Ini, Le. Hati-hati pakainya, tajam sekali itu," pesannya sambil meletakkan cangkir teh di dekat tumpukan kertas koreksian. Ia kemudian merapikan beberapa helai kain perca yang berserakan, membelakangiku sejenak.

"Terima kasih, Mbak," jawabku datar.

Begitu pandangannya teralih, aku bergerak dengan kecepatan yang didorong oleh adrenalin murni. Aku tahu betul bahwa mencabut paksa kabel daya asisten virtual itu adalah sebuah kebodohan. Mematikan aliran listrik secara tiba-tiba akan mengirimkan sinyal ping kegagalan koneksi ke peladen pusat Sasmita, memicu alarm yang akan mengundang para teknisi atau lebih buruk, algojo digital mereka langsung ke rumah ini. Mesin ini tidak boleh mati. Ia hanya perlu dibuat tuli.

Dengan ujung gunting jahit yang runcing, aku mencongkel pelan celah sempit di bagian bawah silinder hitam tersebut, tepat di atas logo T yang terukir samar. Cangkang plastiknya sedikit merenggang. Mataku memindai papan sirkuit mikro di dalamnya, mencari seutas kabel pita tipis berwarna tembaga yang menghubungkan matriks mikrofon ke motherboard. Hanya butuh satu tekanan presisi dari bilah besi tua itu. Klik.

Kabel pita itu terputus rapi. Pendar lampu biru melingkar di atas perangkat itu sempat berkedip sekali, lalu kembali menyala stabil. Asisten virtual itu kini telah menjadi kuda troya yang buta dan tuli, terus mengirimkan sinyal bahwa ia aktif beroperasi, namun tak ada satu pun suara dari dalam rumah ini yang berhasil ia rekam.

Lihat selengkapnya