Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #35

BAB 35: MENYUSUP KE JANTUNG AKSARA

Pagi di Surabaya menyambutku dengan suhu yang jauh lebih terik daripada udara sejuk di lereng Menoreh. Pukul tujuh tepat, kakakku sudah berangkat ke kampus mengendarai sepeda motor matiknya, membawa serta setumpuk kertas ujian dan beban tenggat waktu digitalisasi yang tak masuk akal. Aku berdiri di ambang pintu belakang, menatap kepergiannya dengan perasaan lega. Di atas meja kerjanya, asisten virtual silinder itu masih memancarkan pendar biru yang tenang, benar-benar buta dan tuli, tak lagi mampu mencuri frekuensi napas maupun denting mesin jahit peninggalan keluarga kami.

Setelah memastikan rumah terkunci rapat, aku melangkah keluar menuju jalan raya. Aku mengenakan kemeja flanel berlengan panjang, topi bisbol usang yang kutarik rendah menutupi dahi, dan masker kain biasa. Ransel kanvasku kutinggalkan di rumah, digantikan oleh sebuah map cokelat berisi beberapa lembar draf naskah kosong dan modul SSD titanium yang kusimpan rapat di saku dada kiri, tepat di atas debar jantungku.

Aku tidak menggunakan aplikasi navigasi. Dengan petunjuk arah dari kondektur bus kota yang kutumpangi, aku membelah kemacetan pagi menuju kawasan bisnis Jalan Basuki Rahmat. Di sepanjang rute ini, Surabaya menampakkan wajah aslinya sebagai raksasa metropolitan dengan gedung-gedung pencakar langit berlapis kaca, jembatan layang yang angkuh, dan ribuan lensa kamera pengawas yang bertengger di setiap persimpangan lampu merah. Aku menundukkan kepala, membiarkan diriku menjadi bayangan buram di antara kerumunan pekerja kerah putih yang bergerak layaknya barisan kode biner yang seragam.

Bus berhenti tepat di seberang sebuah menara perkantoran modern berlapis kaca hitam legam. Di lobi utama yang berlapis marmer dingin, sebuah papan direktori digital menampilkan deretan nama perusahaan bergengsi. Mataku menyisir layar itu dan berhenti pada satu baris di lantai empat belas: Yayasan Aksara Semesta - Pusat Kurasi & Digitalisasi Arsip.

Tidak ada logo T bercabang di sini. Mereka membungkus operasi raksasa ini dengan nama yang begitu luhur dan elegan, sebuah kamuflase sempurna untuk menyedot peradaban teks organik ke dalam perut kecerdasan buatan mereka.

Lihat selengkapnya