Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #36

BAB 36: RUANG EVALUASI DAN SANG INISIATOR

Lorong putih di lantai empat belas ini terasa tanpa ujung. Suara sepatuku diredam oleh karpet abu-abu tebal, menghapus setiap jejak kehadiranku secara akustik. Di ujung lorong sebelah kanan, sebuah pintu baja nirkarat bergeser terbuka secara otomatis bahkan sebelum tanganku menyentuh sensornya. Ruang Evaluasi telah menantiku.

Aku melangkah masuk dengan dada bergemuruh. Ruangan itu sama sekali tidak memiliki meja wawancara, jendela, atau deretan kursi dewan direksi. Sebagai gantinya, ruangan bundar itu dipenuhi pilar-pilar penyimpan data bersuhu sangat dingin dan sebuah kursi baja tunggal di tengahnya. Di sekeliling dinding yang melengkung, layar-layar proyektor menyala serentak, menampilkan aliran kode biner yang menyilaukan mata.

Dalam skema pertempuran ini, aku sangat sadar akan posisiku. Aku tidak bisa lagi bersembunyi. Berada di ruangan ini menuntutku untuk bertindak layaknya seorang inisiator di garis depan, aku harus siap menyerap benturan pertama yang paling merusak, mengacaukan formasi logika musuh dari jarak dekat, demi melindungi kehidupan organik yang rentan di garis belakang. Ayah, Ibu, dan kakakku adalah inti yang harus kujaga, dan untuk itu, aku harus membiarkan diriku diserang lebih dulu.

"Silakan duduk, Arief Rahmanto," sebuah suara bergema dari segala penjuru ruangan. Suara itu bukan suara mesin yang kaku, melainkan paduan harmonis dari ribuan sampel vokal manusia yang telah disintesis. Sangat halus, meniru intonasi empati dengan sempurna.

Aku tetap berdiri tegak. Tanganku mencengkeram map cokelat.

"Map yang kau bawa itu tidak berisi naskah apa pun. Pemindai termal kami di lobi sudah memverifikasi bahwa itu hanya lembaran kertas kosong," lanjut suara itu. Layar di depanku kini memunculkan siluet wajah androgini yang terbuat dari partikel cahaya biru. "Kau tidak datang untuk menyerahkan lamaran. Kau datang membawa modul SSD Protokol Surabaya di saku dadamu."

Lihat selengkapnya