Ruangan bundar itu seketika tenggelam dalam kegelapan. Suara dengung mesin pendingin raksasa mati mendadak, digantikan oleh lengkingan alarm mekanis yang memekakkan telinga. Lampu darurat berwarna merah menyala berkedip-kedip dari sudut plafon, menyorot asap putih berbau logam terbakar yang mengepul tebal dari konsol utama. Sabotase fisikku berhasil. Ekosistem digital mereka yang angkuh baru saja kubungkam dengan kebrutalan analog.
Namun, aku tidak punya waktu untuk merayakan kemenangan kecil ini. Pintu baja nirkarat di belakangku, yang sedetik lalu diancam akan terkunci permanen, kini berderit macet di tengah jalurnya akibat putusnya aliran daya sentral. Celahnya hanya menyisakan ruang selebar bahu orang dewasa.
Aku segera berbalik, menabrakkan diri, dan menyelipkan tubuhku ke celah sempit itu. Kemeja flanelku tersangkut dan sobek di bagian lengan, tetapi dengan satu dorongan paksa, aku berhasil keluar dari Ruang Evaluasi dan kembali menginjak karpet tebal di lorong lantai empat belas.
Lorong putih yang tadinya steril dan hening kini berubah menjadi arena kekacauan. Para operator di ruang kerja luar berlarian panik. Layar-layar monitor raksasa yang sebelumnya menampilkan grafik pemindaian real-time kini padam total. Para pekerja itu saling berteriak kebingungan; mereka hanyalah pion kerah putih yang dibayar untuk mengetik, sama sekali tidak tahu-menahu tentang wujud monster kecerdasan buatan yang baru saja kubunuh di ruang belakang.