Langit siang Surabaya terasa membakar kulit saat aku akhirnya melompat ke dalam sebuah angkutan kota yang melaju menjauhi pusat bisnis. Di bangku belakang yang berdebu dan berbau solar, aku menyandarkan punggung yang letih. Kemeja flanelku yang sobek memanjang di bagian lengan sempat menarik tatapan curiga dari penumpang lain, tetapi aku mengabaikannya. Pikiranku hanya terkunci pada satu koordinat: memastikan kakakku benar-benar aman.
Lalu lintas yang macet akibat mobil-mobil pemadam kebakaran membuat perjalanan kembali ke perumahan itu terasa menyiksa. Begitu angkutan berhenti di jalan utama, aku bergegas turun dan berjalan setengah berlari menyusuri gang.
Dari radius sepuluh meter, mataku langsung memindai tiang listrik di seberang rumah. Kotak kamera pengawas berlogo "T" itu masih bertengger di sana, tetapi lampu indikator merahnya kini mati total. Ekosistem pengawasan mereka terputus.
Aku membuka pagar depan yang tidak digembok dan bergegas masuk. Di ruang tengah, kakakku sedang duduk terpaku di depan televisi, wajahnya terlihat pucat. Di layar kaca, siaran berita lokal sedang menayangkan siaran langsung kepulan asap hitam yang keluar dari lantai empat belas menara di Jalan Basuki Rahmat.