Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #39

BAB 39: LANGKAH TANPA JEJAK

Malam kembali merayap, menelan bisingnya jalanan Surabaya di balik tirai jendela yang tertutup rapat. Di kamar tamu rumah kakakku, tasku telah terkemas kembali. Tidak ada barang yang bertambah, kecuali sisa robekan di lengan kemeja flanelku yang menjadi saksi bisu atas huru-hara di Jalan Basuki Rahmat siang tadi.

Keputusanku sudah bulat. Aku harus pergi sebelum tengah malam. Terbunuhnya peladen utama Yayasan Aksara Semesta di Bab 37 dan 38 memang membuat jaringan Sasmita lumpuh sementara, namun entitas seperti mereka tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya sedang menyusun ulang indeks, mengumpulkan serpihan data yang tersisa untuk melacak kembali asal-muasal anomali ini. Jika aku tetap tinggal, kehadiranku di sini akan menjadi suar penanda yang mengundang bahaya baru bagi kakakku.

Aku melangkah keluar kamar secara senyap. Di ruang tengah, televisi sudah dimatikan. Kakakku tertidur di sofa dengan setumpuk kertas ujian mahasiswa yang belum sempat ia koreksi seluruhnya, napasnya terdengar teratur dan damai. Pemandangan itulah yang kuinginkan, sebuah ketenangan organik yang tidak boleh dihancurkan oleh perang biner ini.

Lihat selengkapnya