Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #40

BAB 40: KEMBALI KE TANAH MERAH

Deru mesin bus malam yang lelah mengantar kepulanganku menembus kabut subuh yang mulai turun menyelimuti perbukitan Menoreh. Ketika bus akhirnya berhenti di terminal kecil Kulon Progo, langit timur baru saja menyapukan rona jingga tipis di balik barisan pohon kelapa. Udara dingin pegunungan yang segar langsung meresap ke pori-pori kulitku, mencuci bersih sisa-sisa debu polusi dan ketegangan metropolitan Surabaya yang sempat mencekik paru-paruku.

Aku melangkah turun, menenteng ransel kanvas yang terasa ringan. Tidak ada lagi modul SSD titanium di saku dada, tidak ada lagi asisten virtual yang mengintai, dan yang terpenting, tidak ada lagi lensa kamera pengawas berlogo "T" di setiap sudut jalan. Di sini, di tanah kelahiranku, dunianya masih bernapas dengan ritme yang lambat dan jujur.

Jalanan setapak berbatu menuju rumah keluarga terasa akrab di bawah pijakan sepatuku. Saat aku tiba di pekarangan, lampu teras sudah padam, bergantikan cahaya matahari pagi yang menyorot barisan pot bunga milik Ibu. Dari arah dapur, samar-samar terdengar suara gesekan sapu lidi dan siulan kecil Ayah yang tengah menyapu dedaunan kering.

Aku berhenti sejenak di dekat rumpun bambu, menarik napas dalam-dalam. Perjalanan ke Surabaya selama beberapa hari terakhir telah mengubah segalanya. Aku bukan lagi sekadar penulis lepas yang bersembunyi dari algoritma clickbait Toriff Wilson. Aku adalah orang yang telah membumihanguskan pusat server Sasmita, memutus mata rantai Protokol Surabaya, dan menyelamatkan keluarganya dari cengkeraman kecerdasan buatan yang rakus.

Lihat selengkapnya