Matahari pagi Kulon Progo baru saja memecah kabut tipis di atas perbukitan Menoreh ketika aku melangkah keluar dari kamar. Aroma sayur lodeh buatan Ibu yang mengepul dari dapur menyambut indra penciumanku, membawa kembali rasa damai yang sempat terkoyak di tengah kebisingan beton Surabaya.
Sarapan pagi itu berlangsung hangat dalam kesederhanaan. Ayah bercerita tentang pertumbuhan bibit avokad di kebun belakang yang batangnya semakin kokoh setelah diguyur hujan malam sebelumnya, sementara Ibu sibuk menjejalkan lauk tambahan ke piringku, memastikan anak lelakinya tidak kurang apa pun selama merantau. Tidak ada sepatah kata pun yang menyinggung tentang peretasan server, ancaman digital, atau ledakan di Jalan Basuki Rahmat. Di rumah ini, aku hanyalah Arief, anak bungsu yang kembali untuk mencangkul tanah kelahirannya.
Namun, ketenangan domestik ini tidak membuat kewaspadaanku tumpul.
Selepas makan, aku mengenakan celana pendek lapangan, caping usang, dan berjalan menuju kebun belakang di lereng Kokap. Udara lembap dan aroma tanah basah langsung menyapa. Di antara barisan pohon avokad dan petak-petak cabai yang dirawat Ayah, aku mulai mencangkul tanah merah untuk merapikan saluran air. Gerakan cangkul yang berirama itu menenangkan gemuruh di dadaku, menyelaraskan kembali ritme napas dengan detak alam.