Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #42

BAB 42: ARSIP DI BAWAH RUMPUN BAMBU

Sore menjelang di lereng Kokap, membawa angin sejuk yang berembus pelan dari celah-celah perbukitan Menoreh. Selepas membantu Ayah merawat kebun avokad dan merapikan saluran air, langkah kakiku membimbingku menjauh dari area tanam, menuju bagian paling belakang pekarangan rumah, sebuah sudut sunyi yang ditumbuhi rumpun bambu lebat dan pohon nangka tua.

Tempat ini jarang dijamah siapa pun. Di sinilah, bertahun-tahun lalu sebelum dunia disesaki oleh algoritma pemindai dan layar sentuh, kakekku menyimpan sebuah kotak seng tua berisi naskah-naskah tulisan tangan, catatan harian lokal, dan kliping koran zaman pergerakan.

Nasihat Ayah tentang "akar yang kuat" terus bergeming di kepalaku. Jika sistem Sasmita dan dewan kurator digital berusaha menyeragamkan peradaban dengan melahap seluruh teks di awan internet, maka pertahanan terakhir kami bukanlah server rahasia, melainkan arsip analog yang tidak tersentuh sinyal apa pun.

Aku berlutut di atas tanah merah yang basah oleh sisa hujan semalam. Dengan menggunakan ujung bilah pisau kecil yang kubawa, aku menggali tanah di bawah naungan rumpun bambu, tepat di samping batu penanda sumur tua keluarga. Tak lama kemudian, ujung jemariku membentur permukaan logam yang dingin.

Lihat selengkapnya