Pagi berikutnya, ancaman yang dibicarakan Yusuf mewujud nyata. Sebuah minibus hitam dengan stiker bergambar buku dan bola dunia, mencantumkan nama Yayasan Literasi Nusantara, terparkir di pekarangan Balai Desa Kokap. Dua pria berstelan rapi turun membawa dua koper keras berisi alat pemindai (scanner) portabel berkecepatan tinggi.
Dari balik rimbun pohon beringin di seberang jalan, aku dan Yusuf mengamati gerak-gerik mereka. Pola ini gampang dikenali, karena mereka datang atas nama pengabdian masyarakat, menawarkan uang pembinaan untuk kas desa, demi menukar hak akses penuh atas seluruh naskah kuno, babad lokal, dan silsilah tanah warga.
"Mereka sudah membuat janji dengan Kepala Desa sejak kemarin sore, Rief," bisik Yusuf dengan raut wajah cemas.
"Arsip fisik di ruang belakang balai desa sudah kamu amankan?" tanyaku pelan tanpa mengalihkan pandangan.