Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #47

BAB 47: LINGKARAN INGATAN

Kekalahan dua agen di lumbung tua pada Bab 46 menandai bergesernya peta pertempuran. Mereka menyadari bahwa kekerasan fisik atau sergapan instan tidak akan mempan melawan desa yang telah merapatkan barisan. Namun, aku cukup mengenal Sasmita. Sebuah sistem kecerdasan buatan tidak pernah menyerah; ia hanya akan mengganti metode peretasannya, dari memindai lembaran kertas menjadi mengikis ingatan manusianya.

Menyembunyikan naskah di balik karung beras dan tumpukan kayu bakar adalah taktik bertahan yang bersifat sementara. Jika kertas-kertas itu hanya terdiam dalam kegelapan, suatu saat dampaknya akan memudar. Cara paling utuh untuk menyelamatkan sebuah teks dari kepunahan digital adalah dengan mengubahnya menjadi suara dan ingatan hidup.

Malam itu, tanpa ada pengumuman tertulis dan tanpa satu pun pesan di grup percakapan ponsel, belasan pemuda dan sesepuh desa berkumpul di teras rumah Mbah Sugeng. Lampu minyak gantung menyiarkan cahaya temaram, memantulkan bayangan tubuh kami di dinding papan.

Di tengah lingkaran itu, aku meletakkan bundel naskah Kakek yang kubawa di dalam tas kanvas.

Lihat selengkapnya