Siang hari berikutnya, keampuhan tradisi lisan yang kami bangkitkan pada Bab 47 mendapat ujian pertamanya.
Sinyal telepon seluler di wilayah Kokap yang sempat dipadamkan kini melimpah ruah dengan kecepatan tak biasa. Di layar ponsel para pemuda desa, bermunculan pemberitahuan gencar dari situs kebudayaan baru buatan Yayasan Literasi Nusantara. Mereka meluncurkan naskah digital berformat interaktif yang mengklaim sebagai "Babad Asli Tanah Kokap".
Yusuf menunjukkan layar ponselnya padaku saat kami duduk di pos ronda. "Lihat ini, Rief. Mereka menerbitkan cerita tentang desa kita."
Aku menyipitkan mata, membaca deretan kalimat yang tersusun sangat rapi dan puitis di atas layar sentuh itu. Sepintas, naskah itu terlihat indah. Namun, di balik bahasa yang mendayu-dayu, algoritma Sasmita telah membuang seluruh bagian penting: catatan perlawanan petani terhadap penyerobotan lahan, silsilah tanah adat, dan kisah kemandirian warga dihapus total. Sebagai gantinya, mereka menyisipkan narasi palsu yang menggambarkan warga Kokap sebagai masyarakat pasrah yang selalu tunduk pada otoritas luar.