Fajar pertama setelah mundurnya Sasmita menyingsing dengan sangat jernih di atas Perbukitan Menoreh. Udara pagi Kulon Progo terasa begitu murni, bebas dari dengung elektromagnetik dan hembusan sinyal pengintai yang selama berbulan-bulan membayangi setiap jengkal langkahku.
Di pekarangan rumah, Ayah sedang menyiram barisan bibit avokad dengan timba seng. Asap tipis dari dapur Ibu menguar lembut, membawa aroma kopi tubruk dan singkong goreng. Tidak ada lagi layar yang berkedip, tidak ada lagi notifikasi yang mendikte, dan tidak ada lagi suara sintesis kecerdasan buatan yang mengintai dari sudut-sudut gelap.
Aku melangkah ke kebun belakang dengan telanjang kaki, membiarkan jemari kakiku menyentuh langsung dinginnya tanah merah yang basah oleh embun.
Ancaman musuh di Bab 49 untuk menghapus seluruh rekam jejak digital namaku mungkin telah mereka eksekusi di awan internet. Di dalam mesin pencari, nama Arief Rahmanto mungkin kini tak lagi memantulkan hasil apa pun. Namun, saat aku berdiri di bawah rindangnya pohon nangka tua, aku menyadari satu hal bahwa penghapusan itu justru menjadi pembebasan sejatiku. Aku tidak lagi menjadi komoditas biner yang bisa ditakar oleh indeks clickbait atau dikurasi oleh algoritma Sasmita.