Malam telah merayap hingga pukul delapan saat Maira akhirnya melangkah keluar dari lobi kantor. Meski tubuhnya lelah setelah seharian bergulat dengan angka, gairah di matanya tak meredup. Hari ini adalah tonggak sejarah—empat tahun perjalanannya bersama Reanod. Sebuah angka yang tidak hanya berarti waktu, tapi juga kesetiaan yang ia jaga sepenuh hati.
Maira menghentikan mobilnya di depan sebuah supermarket besar. Ia bergerak lincah di antara lorong-lorong rak, memilih bahan terbaik untuk membuat kue tart dan cokelat buatan tangan. Tak lupa, sebuket mawar merah segar yang sudah ia pesan sebelumnya tergeletak cantik di kursi penumpang.
"Semoga saja kejutan ini sesempurna bayanganku," gumamnya sembari menatap pantulan dirinya di spion, penuh harap.
Setibanya di rumah, dapur menjadi saksi bisu kesibukan Maira. Dengan penuh cinta, ia mengaduk adonan dan menghias cokelat. Aroma manis vanila memenuhi ruangan, sehangat hatinya saat itu. Setelah semua persiapan rampung, Maira membersihkan diri dan merias wajah seanggun mungkin. Ia ingin menjadi versi terbaik dirinya malam ini.
Tepat pukul 21:34, Maira menginjak pedal gas menuju kantor Reanod.
Senyumnya terus merekah sepanjang perjalanan. Tak lama, ia tiba di depan gedung pencakar langit bertuliskan Wijsma Jaya, sebuah raksasa di bidang ekspor-impor yang kini dipimpin oleh Reanod sebagai CEO, meneruskan takhta sang ayah. Sebelumnya, Maira sudah memastikan melalui Gavin, sang sekretaris, bahwa Reanod masih berada di ruangannya untuk lembur.
Maira melepaskan sabuk pengaman, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar memegang kotak kue, cokelat, dan bunga, ia melangkah masuk. Suasana kantor nampak lengang, hanya menyisakan lampu-lampu temaram di koridor dan beberapa ruangan karyawan yang masih terjaga karena tugas tambahan.
Setiap langkah yang diambil Maira terasa semakin berat karena gugup yang luar biasa. Ini adalah kali pertama ia mengambil inisiatif untuk memberikan kejutan besar, setelah tahun-tahun sebelumnya Reanod-lah yang selalu memanjakannya.
"Oke, Maira. Semangat! Kamu bisa melakukannya," bisiknya menyemangati diri sendiri tepat di depan pintu jati ruangan sang kekasih.
Maira mengatur napas, memasang senyum paling menawan, lalu dengan gerakan perlahan ia mendorong pintu itu terbuka.