"Selamat pagi, Bu Maira."
"Pagi, Bu."
"Selamat pagi juga," balas Maira Kalean dengan nada riang. Senyum manis tak pernah absen dari bibir tipisnya yang dipulas gincu merah muda. Wanita karier berusia 24 tahun itu melangkah penuh percaya diri, menyapa balik setiap karyawan yang berpapasan dengannya di sepanjang lobi kantor.
Langkah Maira melambat saat ia tiba di depan lift. "Maira, selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak," Maira sedikit menundukkan kepala, memberikan gestur hormat yang tulus. Di sampingnya berdiri sang atasan, Faizal Dante. Pria berusia 27 tahun itu memiliki paras yang lebih dari sekadar tampan—garis wajahnya halus, hampir mendekati cantik, namun tetap berwibawa.
Maira merasa beruntung bisa mengabdi di Dante Group. Baginya, Faizal adalah anugerah di dunia korporat yang keras; seorang pemimpin yang ramah, murah senyum, dan sangat pengertian terhadap bawahannya.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Maira?" tanya Faizal saat mereka masuk ke dalam kotak logam yang mulai bergerak naik.
"Saya baik, Pak. Sangat baik," jawab Maira dengan binar mata yang cerah.
"Bagus. Oh ya, mengenai data keuangan perusahaan yang saya minta kemarin, apa sudah ada titik terang?"
"Tentu saja, Pak. Semuanya sudah rampung saya kerjakan. Setelah ini akan langsung saya antarkan ke meja Bapak."
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai tujuan mereka.
"Kerja bagus. Kalau begitu, saya duluan, Maira," pamit Faizal dengan senyum khasnya sebelum melangkah keluar lebih dulu.
Maira menarik napas panjang, merasa bersemangat, lalu berbelok menuju ruangan Divisi Keuangan. Baru saja kakinya melewati ambang pintu, seruan ramai sudah menyambutnya.