KOSMOS: BINTANG DI RENGGUT

Dio Septian
Chapter #2

Benda Logam di Langit

Dewan Klan Aerum berkumpul di balai tengah keesokan paginya, tapi bukan karena aku melaporkan apa yang kulihat.

Mereka berkumpul karena tiga klan lain sudah lebih dulu melaporkan hal yang sama.

Ini yang pertama kali terjadi dalam hidupku, sebuah laporan yang datang dari empat penjuru sekaligus, empat klan yang letaknya berjauhan dan tidak punya alasan untuk berbohong atau membesar-besarkan. Veth-Kara dari klan Theron di timur, dari klan Vusari di pesisir selatan, dari klan Maret yang tinggal di dataran tinggi, semuanya melihat hal yang sama. Objek di langit. Bergerak teratur. Mengirim sinyal.

Dewan mendengarkan semuanya sambil duduk dalam posisi yang kami sebut Veth-Soraan: membentuk lingkaran, saling berhadapan, tidak ada yang duduk lebih tinggi dari yang lain. Tiga puluh dua anggota dari delapan klan, ditambah empat pengamat muda yang duduk di luar lingkaran, salah satunya Voreth, yang tidak bisa aku lihat wajahnya dari tempatku duduk, tapi bisa kurasakan energinya: tegang, penuh perhatian, seperti tali yang diregangkan terlalu kencang.

Aku menyampaikan laporanku terakhir. Bukan karena kurang penting, tapi karena aku ingin mendengar semua yang lain dulu sebelum berbicara.

Ketika aku selesai, Dewan hening selama beberapa waktu.

Kemudian Veth-Kara tertua kami, Omeral dari klan Vusari, yang sudah berusia hampir lima ratus siklus dan bicaranya pelan seperti air yang turun dari batu tinggi, berkata:

"Kita sudah pernah melihat benda terbang sebelumnya."

Bukan pertanyaan. Pernyataan. Cara Omeral mengingatkan semua orang untuk tidak langsung melompat ke ketakutan.

"Pernah," jawab Kureth dari klan Theron. "Tapi yang pernah kita lihat selalu mengikuti jalur gravitasi. Ini tidak."

"Makhluk terbang besar juga tidak selalu mengikuti jalur gravitasi," kata Omeral.

"Makhluk terbang besar tidak mengirim sinyal terstruktur," kataku.

Hening lagi. Kali ini lebih lama.

Omeral menatapku dengan matanya yang sudah sedikit kabur di tepinya, tanda usia yang sangat tua pada ras kami. Ia tidak membalas. Ia hanya mengangguk, sangat pelan, seperti seseorang yang menerima sebuah fakta yang tidak ingin ia terima.

Keputusan Dewan, setelah hampir empat jam berdiskusi, adalah: amati. Jangan bereaksi. Kirim pengindera frekuensi ke empat titik di benua ini untuk mencatat semua sinyal yang datang. Jangan ada klan yang mencoba mendekati objek tersebut. Jangan ada yang merespons sinyalnya.

Ini adalah keputusan yang bijak. Aku tahu itu. Dalam sejarah kami, hal-hal yang tidak dimengerti hampir selalu menjadi lebih mudah dimengerti ketika kau berhenti mencoba memaksanya masuk ke dalam kerangka yang sudah ada.

Tapi di luar balai, sementara anggota Dewan berpencar dan matahari pagi mulai menghangatkan batu-batu jalan, aku menemukan Voreth menungguku di dekat pohon Aerum yang tumbuh miring sejak gempa dua puluh siklus lalu.

"Kita tidak akan mendekatinya?" ia bertanya langsung, tanpa salam, tanpa basa-basi.

"Dewan sudah memutuskan," kataku.

"Aku tahu Dewan sudah memutuskan. Aku tanya kita."

Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan cara yang hanya dimiliki oleh yang sangat muda atau yang sangat tua: tanpa filter, tanpa lapisan, hanya pertanyaan murni yang belum tahu malu untuk menjadi pertanyaan.

"Kita," kataku dengan hati-hati, "adalah bagian dari Dewan dan keputusannya."

"Kita bisa melihat dari jauh," ia berkata. "Dari perbukitan utara. Tanpa mendekati. Hanya melihat."

"Voreth, "

"Erevath." Ia menyebut namaku dengan cara yang membuatku diam. Bukan karena ia lancang, ia tidak pernah lancang, anehnya, meski selalu tampak seperti akan lancang. Tapi ada sesuatu dalam suaranya yang terdengar seperti ia sedang berkata:

Tolong jangan pura-pura kamu tidak juga ingin tahu.

Aku menghela napas melalui insangku.

"Besok pagi," kataku akhirnya. "Sebelum matahari naik. Dan kita tidak lebih dekat dari perbukitan utara."

Ia mengangguk. Tapi ada senyum kecil di sudut mulutnya, bukan senyum puas, lebih ke senyum lega, senyum seseorang yang baru saja diizinkan untuk tetap penasaran.

Aku tidak membalasnya. Tapi di dalam dadaku ada sesuatu yang tidak sepenuhnya tidak menyerupai hal yang sama.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Ini bukan hal yang luar biasa bagiku, aku sudah memasuki usia di mana tidur tidak datang begitu saja, di mana tubuh perlu diyakinkan bahwa istirahat itu perlu dan bukan kemewahan yang bisa ditunda. Tapi malam ini bukan karena usia. Malam ini karena di langit utara, jika aku berbaring di atap rumahku dan memandang ke arah yang tepat, aku bisa melihat dua titik sekarang.

Dua. Bukan satu.

Aku berbaring di sana cukup lama, menghitung. Memastikan aku tidak salah. Mencoba meyakinkan diri bahwa salah satunya adalah bintang yang belum kuperhatikan, tapi aku mengenal semua bintang di langit ini, dan tidak ada bintang yang bergerak dengan cara itu.

Dua titik. Bergerak teratur. Satu sedikit di belakang yang lain, seperti bayangan yang memilih untuk tertinggal.

Aku turun dari atap. Masuk ke dalam. Mengambil jurnalku.

Aku menulis: Kini ada dua objek. Yang pertama sudah bergerak semakin ke selatan. Yang kedua tampak lebih kecil dan lebih lambat. Aku tidak tahu apa artinya ini. Aku juga tidak tahu mengapa aku mencatat ini seolah mencatatnya akan membuatnya lebih masuk akal.

Kemudian aku menutup buku itu dan berbaring di lantai, karena lebih dingin dari kasur dan terkadang dingin adalah satu-satunya hal yang membuatku bisa berpikir jernih.

Lihat selengkapnya