KOSMOS: BINTANG DI RENGGUT

Dio Septian
Chapter #3

Kontak Pertama

Yenna tidak meminta izin.

Ini yang pertama kali aku tahu tentangnya, bukan dari cerita orang lain, bukan dari catatan klan, tapi dari cara ia berdiri di depan Dewan tiga hari setelah sinyal itu berubah, dengan alat frekuensinya di kedua tangan, dan berkata dengan nada yang sama persis seperti ketika ia melaporkan hasil pengamatan cuaca: bahwa ia sudah menjawab sinyal itu. Sudah, bukan akan. Kemarin malam, jam kedua setelah tengah malam, ketika sebagian besar klan tidur.

Dewan hening selama waktu yang terasa lebih lama dari yang sebenarnya.

Kureth dari klan Theron yang pertama bicara, dan suaranya terasa seperti batu dijatuhkan ke kolam tenang:

"Kamu melanggar keputusan Dewan."

"Ya," kata Yenna. Tidak ada penyesalan dalam suaranya. Tidak ada pembangkangan juga, hanya fakta yang ia terima seperti ia menerima semua fakta: sebagai sesuatu yang ada dan perlu dihadapi. "Tapi saya juga mendapat jawaban."

Hening lagi. Kali ini berbeda, bukan hening marah, tapi hening yang menahan napas.

"Jawaban apa?" tanya Omeral akhirnya, dan aku merasakan seluruh ruangan sedikit bergeser ke depan tanpa benar-benar bergerak.

Yenna meletakkan alatnya di lantai. Ia menekan beberapa titik di permukaannya, dan dari celah-celah kristal yang tertanam di badannya, alat itu buatan Yenna sendiri, sesuatu yang sudah ia kerjakan selama bertahun-tahun sebelum semua ini terjadi, seolah ia sudah tahu bahwa suatu hari alat itu akan diperlukan, keluarlah suara.

Bukan suara seperti yang kami kenal. Bukan resonansi, bukan frekuensi yang bisa dirasakan dengan tubuh. Ini adalah suara yang masuk melalui telinga, organ yang kami punya tapi jarang kami andalkan, organ cadangan yang berevolusi entah untuk apa dan kami biarkan ada tanpa banyak kami gunakan.

Suara itu berdenyut. Terputus-putus. Ada bagian yang terdengar seperti tekanan udara yang dilepas, ada bagian yang terdengar seperti sesuatu yang bergesekan, ada bagian yang tidak terdengar seperti apapun yang pernah ada di kosakata telinga kami.

Tapi di dalamnya, di balik semua keasingan itu, ada sesuatu yang terasa seperti pola. Seperti urutan. Seperti seseorang yang sedang mencoba mengucapkan nama dirinya dalam bahasa yang belum ia kuasai.

Pertemuan itu berlangsung tiga jam.

Di akhirnya, Dewan tidak menghukum Yenna. Tidak bisa, karena ia sudah melakukan apa yang harusnya memakan waktu berbulan-bulan diskusi, dan ia melakukannya dalam satu malam, dan hasilnya ada di sana, nyata dan bisa didengar oleh semua orang. Menghukumnya terasa seperti menghukum seseorang yang melompat ke sungai untuk menyelamatkan orang tenggelam karena ia tidak mengambil giliran jaga yang benar.

Yang Dewan putuskan adalah ini: Yenna akan menjadi penghubung resmi. Semua komunikasi dengan objek di langit, yang mulai kami sebut dengan istilah sementara Veth-Laan, tamu langit, karena kami belum punya kata lain, akan melalui Yenna, dengan pengawasan dua anggota Dewan. Tidak ada yang berkomunikasi sendiri. Tidak ada yang bereksperimen tanpa sepengetahuan bersama.

Aturan yang masuk akal.

Aturan yang, seperti banyak aturan masuk akal lainnya, akan segera mulai retak di tepinya.

Aku pertama kali melihat Yenna bekerja dua hari kemudian. Ia duduk di laboratorium kecilnya di tepi permukiman, ruangan yang sesungguhnya lebih mirip tumpukan alat yang kebetulan punya atap, dengan alatnya di depannya dan catatan-catatannya tersebar di lantai seperti dedaunan setelah angin. Ia bekerja dengan konsentrasi yang membuatku tidak ingin mengganggunya, tapi aku masuk juga karena aku Veth-Kara dan memantau adalah bagian dari tugasku.

Ia tidak menoleh ketika aku masuk. Ia hanya berkata, tanpa mengalihkan pandangan dari alatnya:

"Mereka belajar lebih cepat dari yang saya duga."

"Siapa?"

"Veth-Laan." Ia akhirnya menoleh, matanya tampak lelah tapi menyala dengan sesuatu yang hanya bisa digambarkan sebagai kegembiraan yang tidak tahu cara berhenti. "Dalam tiga hari mereka sudah mengidentifikasi delapan puluh pola dasar dari sinyal saya. Delapan puluh, Erevath. Saya butuh tiga bulan untuk mengidentifikasi tiga puluh dari sinyal mereka."

"Itu mengkhawatirkan atau membanggakan?"

Ia berpikir sebentar, tulus. "Keduanya," katanya akhirnya. "Tapi lebih banyak membanggakan daripada mengkhawatirkan."

Aku duduk di kursi satu-satunya yang tidak penuh catatan dan menatap alatnya. Ia cantik, dalam caranya sendiri, bukan cantik seperti kristal Aerum yang memantulkan cahaya, tapi cantik seperti sesuatu yang dibuat dengan pikiran yang sangat jelas tentang apa yang ia mau, dan tidak membiarkan apapun menghalangi antara pikiran itu dan hasilnya.

"Yenna," kataku. "Kamu sudah memberitahu mereka apa saja?"

"Dasar-dasar. Pola angka. Beberapa bentuk geometri. Saya coba membangun abjad bersama dulu sebelum mencoba kalimat."

"Kamu tidak memberitahu mereka tentang posisi kita? Jumlah kita?"

Ia menggeleng. "Belum. Kita tidak tahu siapa yang mendengar di sana."

Aku merasa sedikit lega. Yenna, untuk semua kecepatannya, tidak ceroboh.

Atau begitulah yang kupikir waktu itu.

Minggu pertama komunikasi berjalan seperti percakapan dua orang yang berbagi satu kamus tipis dan banyak kesabaran. Pola angka menjadi fondasi, angka adalah bahasa yang tidak punya aksen, tidak punya konteks budaya yang bisa disalahpahami. Dari angka mereka membangun geometri. Dari geometri mereka membangun referensi ruang. Dari referensi ruang, perlahan-lahan, seperti jembatan yang dibangun dari dua sisi sungai sekaligus, mulailah terbentuk sesuatu yang bisa disebut percakapan.

Aku menghadiri setiap sesi yang bisa kuhadiri. Duduk di sudut, tidak ikut campur, hanya mendengarkan dan mencatat.

Yang kutangkap, dari semua itu, adalah ini: makhluk di dalam Veth-Laan sangat ingin dimengerti. Bukan hanya ingin berkomunikasi, ada perbedaan di sana, perbedaan yang halus tapi penting. Sesuatu yang ingin berkomunikasi akan puas ketika pesannya tersampaikan. Sesuatu yang ingin dimengerti akan terus mendorong, terus menambah, terus membuka lapisan demi lapisan dari dirinya bahkan sebelum kau selesai mencerna lapisan sebelumnya.

Mereka mendorong.

Terus mendorong.

Dan Yenna, yang mungkin adalah satu-satunya dari kami yang bisa mengimbangi kecepatan itu, yang pikirannya bekerja seperti air yang selalu menemukan celah, membiarkan dirinya didorong.

Pada hari kedua puluh tiga, Yenna masuk ke sesi dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya sebelumnya.

Lihat selengkapnya