KOSMOS: BINTANG DI RENGGUT

Dio Septian
Chapter #5

Tanda yang Diabaikan

Ada sebuah pohon di tepi padang Aerum yang kami sebut Veth-Ora, Pohon Pertama, bukan karena ia benar-benar pohon pertama yang tumbuh di sana, tapi karena ia yang pertama tumbuh kembali setelah bencana api besar tiga ratus siklus lalu yang menghanguskan seluruh padang hingga tidak tersisa apapun selain abu dan batu.

Ia tumbuh dari retakan di batu yang dulu tidak ada retakannya. Tidak ada yang menanamnya. Tidak ada yang tahu dari mana benihnya berasal. Ia hanya ada suatu pagi, kecil dan keras dan keras kepala, dan kami membiarkannya karena membiarkan sesuatu yang memilih untuk ada selalu terasa lebih benar dari mencabutnya.

Aku sering duduk di bawahnya ketika perlu berpikir.

Sebulan setelah kapal besar itu mendarat, aku duduk di bawah Veth-Ora dan memperhatikan daunnya. Atau lebih tepatnya: memperhatikan warnanya. Daun-daun Veth-Ora biasanya hijau tua dengan urat kebiruan, warna yang berasal dari mineral tanah Aerum yang khas. Bulan lalu warnanya mulai berubah di tepinya. Bukan berubah seperti musim berganti, bukan kuning lembut dari kelelahan yang wajar. Berubah seperti sesuatu yang perlahan kehilangan sumber dari dalam, pucat, kemudian putih pucat, kemudian di beberapa helai yang paling dekat dengan akar: cokelat kering yang tidak seharusnya ada di tengah musim basah.

Aku jongkok dan menyentuh tanah di sekitar akarnya. Dingin. Terlalu dingin, bukan dingin tiga derajat khas Aerum, tapi dingin yang berbeda, dingin yang terasa seperti absen, seperti sesuatu yang seharusnya ada di bawah sana sudah tidak ada lagi.

Aku berdiri. Aku menatap ke utara.

Di utara, di balik perbukitan, ada cahaya dari kota mereka yang tidak pernah padam.

Penambangan dimulai pada minggu ketiga setelah pendaratan kapal besar itu, meski kami tidak tahu menyebutnya penambangan waktu itu. Kami menyebutnya pekerjaan, mereka bilang mereka sedang membangun fondasi untuk tempat tinggal mereka, membangun struktur yang diperlukan, mengolah tanah agar bisa mendukung bangunan-bangunan yang akan datang.

Semua itu benar. Semua itu juga tidak lengkap.

Yang tidak mereka katakan adalah ini: fondasi mereka membutuhkan pengeboran hingga tiga puluh meter ke bawah permukaan. Struktur mereka membutuhkan jalur-jalur yang dicetak ke dalam tanah seperti akar buatan. Dan tanah yang mereka olah menghasilkan material yang tidak mereka buang, yang mereka kumpulkan, yang mereka angkut, yang mereka muat ke dalam kapal-kapal kecil yang sesekali naik ke langit dan kembali ke Veth-Laan yang masih diam di orbitnya.

Kristal.

Itu yang mereka ambil. Kristal resonansi yang tumbuh di lapisan dalam tanah Aerum, yang terbentuk selama ribuan tahun dari tekanan dan mineral dan, ini yang tidak bisa dijelaskan oleh geologi biasa, dari akumulasi resonansi kolektif semua makhluk yang pernah hidup di atas tanah ini. Setiap ritual Veth-Raa yang pernah dilakukan menambah lapisan tipis pada kristal-kristal itu. Setiap kelahiran dan kematian dan keputusan besar yang diambil oleh klan-klan kami selama berabad-abad meninggalkan semacam bekas dalam struktur kristalnya.

Mereka bukan hanya menambang mineral. Mereka menambang memori kami.

Dan mereka tidak tahu itu. Atau mungkin mereka tahu dan itu tidak mengubah apapun. Aku tidak bisa memutuskan mana yang lebih menyedihkan.

Yang pertama merasakan adalah anak-anak.

Selalu anak-anak dulu. Mereka belum belajar menyaring, belum belajar memberi nama pada sesuatu sebelum mengakui bahwa sesuatu itu ada. Ketika resonansi mulai terganggu, ketika frekuensi tanah yang sudah kami kenal seperti mengenal denyut jantung sendiri mulai berubah, mulai bergetar tidak pada temponya, mulai mengirim sinyal yang kontradiktif seperti dua orang berbicara sekaligus dalam frekuensi yang sama, anak-anak merasakannya pertama.

Mereka mengeluh sakit kepala.

Satu dua di awal, yang bisa dibilang kebetulan. Kemudian semua anak di klan Aerum dalam waktu tiga hari, yang tidak bisa lagi dibilang kebetulan. Kemudian laporan dari klan Theron di timur, dari klan Vusari di selatan, anak-anak mereka juga, dengan keluhan yang sama: sakit kepala yang datang dan pergi tanpa pola, yang tidak merespons obat-obatan kami, yang tampak lebih parah ketika mereka berada di dekat tanah dan lebih ringan ketika mereka berada di ketinggian.

Seorang ibu dari klan Aerum datang ke rumahku pada suatu pagi dengan anaknya di gendongan, anak perempuan berusia kira-kira empat puluh siklus, usia yang setara dengan delapan tahun manusia, usia di mana seharusnya yang ada di pikirannya adalah belajar nama-nama bintang dan berlari di antara kristal-kristal dan mengikuti ritual pertamanya.

"Ia tidak mau menyentuh tanah," kata ibunya. "Sejak tiga hari lalu. Setiap kali kakinya menyentuh tanah ia menangis dan berkata sakit. Tapi tidak ada luka."

Aku jongkok di depan anak itu. Matanya keempat menatapku, yang dua menatap wajahku, yang dua menatap sesuatu di balikku atau mungkin di balik segala sesuatu. Aku merasakan bioelektriknya: kacau, seperti benang yang seharusnya terjalin rapi tapi sudah ditarik dari beberapa ujung sekaligus.

"Apa yang kamu rasakan?" tanyaku padanya, pelan.

Ia berpikir sebentar dengan cara anak-anak berpikir, sepenuhnya, tanpa terburu-buru, tanpa menyensor sebelum selesai.

"Tanahnya berisik," katanya akhirnya. "Dulu tanahnya bicara pelan. Sekarang teriak-teriak tapi tidak bilang apa-apa."

Aku berdiri. Ibunya menatapku dengan pertanyaan di wajahnya.

"Aku akan bicara dengan Dewan," kataku. Dan sebelum ia sempat bertanya lebih jauh aku sudah berjalan, karena aku tahu kalau aku berhenti aku akan harus menjawab pertanyaan yang belum punya jawaban yang cukup jujur untuk diucapkan kepada seorang ibu yang menggendong anaknya.

Dewan mendengarkan laporanku.

Kemudian Kureth berkata bahwa ini mungkin korelasi, bukan kausalitas, mungkin ada faktor lain yang menyebabkan gangguan resonansi, bukan pengeboran di utara.

Kemudian anggota lain berkata bahwa kita perlu bukti lebih kuat sebelum mengajukan keberatan formal kepada Veth-Laan, karena perjanjian yang baru saja ditandatangani dan keberatan yang terlalu cepat bisa merusak kepercayaan yang baru dibangun.

Kemudian Omeral berkata bahwa ia akan meminta Yenna untuk menanyakan kepada mereka tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan di bawah tanah.

Aku mendengarkan semua ini sambil menghitung, dalam kepalaku, sudah berapa banyak waktu yang berlalu sejak kapal besar itu datang. Sudah berapa banyak ton kristal yang diangkut ke langit. Sudah berapa dalam lubang yang mereka gali di tubuh planet ini.

"Kita sudah menunggu dan mengamati sejak mereka pertama datang," kataku ketika semua orang selesai. "Kita mengamati ketika mereka mengirim sinyal. Kita mengamati ketika mereka mendarat. Kita mengamati ketika mereka meminta lahan. Kita mengamati ketika kapal besar itu datang. Sekarang anak-anak kita kesakitan dan kita masih berbicara tentang bukti dan kepercayaan."

Ruangan itu tidak nyaman dengan kata-kataku. Aku bisa merasakannya, ketidaknyamanan kolektif yang menyebar seperti gelombang dari pusat ke tepi, menyentuh masing-masing orang dengan cara yang sedikit berbeda tapi berasal dari sumber yang sama: kebenaran yang tidak menyenangkan yang diucapkan terlalu keras di ruangan yang belum siap menampungnya.

"Apa yang kamu usulkan, Veth-Kara?" tanya Omeral. Nadanya bukan defensif. Tulus. Omeral selalu tulus bahkan ketika ia tidak setuju. Itu yang membuatku menghormatinya bahkan di momen ini.

Lihat selengkapnya