Voreth melakukannya pada subuh hari keenam puluh sejak kapal besar itu mendarat.
Aku tidak tahu persis kapan ia pergi. Aku tidak tahu berapa orang yang bersamanya, tidak tahu rute mana yang mereka ambil, tidak tahu berapa lama mereka bersiap. Yang aku tahu adalah ini: ketika fajar belum sepenuhnya putih dan udara masih menyimpan dingin malam, ada getaran yang terasa berbeda dari getaran mesin yang sudah kami hafal selama dua bulan terakhir. Getaran yang lebih tajam, lebih pendek, lebih seperti sesuatu yang dilepaskan daripada sesuatu yang berjalan.
Aku terbangun dan langsung tahu.
Aku duduk di tepi kasurku dan menghitung napas. Satu. Dua. Tiga. Cara lama untuk menjaga kepala tetap di atas hal-hal yang ingin menariknya ke bawah. Kemudian aku berdiri, mengambil jubahku, dan pergi keluar ke pagi yang masih setengah gelap.
Di jalan menuju utara, beberapa anggota klan sudah berdiri di ambang rumah mereka, melihat ke arah yang sama. Tidak ada yang bersuara. Kadang sesuatu yang cukup besar membuat kata-kata terasa seperti gangguan.
Dari arah kota manusia, asap tipis mulai mengepul.
Voreth kembali tiga jam kemudian.
Ada sembilan orang bersamanya, semuanya muda, semuanya dengan debu dan jejak tanah di jubah mereka dan ekspresi yang belum selesai memutuskan apakah yang baru terjadi adalah kemenangan atau awal dari sesuatu yang lain. Voreth sendiri berjalan dengan cara yang sedikit berbeda dari biasanya, cara seseorang yang membawa sesuatu di dalam dadanya yang belum punya tempat yang tepat.
Ia menemukanku di depan balai.
"Berhasil," katanya. Suaranya datar, bukan karena tidak ada perasaan di dalamnya tapi karena terlalu banyak perasaan yang saling tindih sampai yang keluar adalah lapisan paling tenangnya.
"Aku tahu," kataku. "Ceritakan."
Kami masuk ke dalam. Ia duduk. Aku duduk di depannya. Ia mengambil napas panjang lalu bicara.
Mereka pergi berlima dari permukiman, bergabung dengan empat yang sudah menunggu di titik tertentu di perbukitan utara. Sembilan total. Mereka membawa alat resonansi yang sudah dimodifikasi selama berminggu-minggu, alat yang dalam penggunaan biasa dipakai untuk komunikasi jarak jauh antarklan tapi yang sudah dihitung ulang frekuensinya untuk menghasilkan gelombang yang lebih padat dan lebih kuat. Bukan senjata. Bukan pernah dirancang sebagai senjata. Tapi seperti banyak hal yang tidak pernah dirancang sebagai senjata, ternyata bisa menjadi satu ketika tidak ada pilihan lain yang tersedia.
Mereka mendekati dari sisi barat kota, jalur yang paling jarang diawasi karena paling jauh dari pintu masuk utama. Mereka bekerja dalam diam, memposisikan diri di tiga titik berbeda di tepi area penambangan, membentuk segitiga yang dalam perhitungan Voreth cukup untuk melingkupi frekuensi pada mesin pengeboran terbesar.
"Waktu itu masih gelap," kata Voreth. "Lampu mereka menyala tapi tidak ada yang bergerak di luar. Kami menunggu sampai yakin."
"Berapa lama?"
"Hampir satu jam."
Satu jam berjongkok di tanah dingin dalam gelap, menunggu. Aku membayangkan sembilan tubuh muda yang menahan napas, menahan rasa takut, menahan semua yang ingin melarikan diri kembali ke tempat yang lebih aman.
"Kemudian?"
"Kami mulai resonansi. Bertahap, seperti yang sudah kami latih. Frekuensi rendah dulu untuk memastikan kalibrasi, kemudian naik." Ia berhenti sebentar. "Mesinnya merespons lebih cepat dari yang kami perkirakan. Ada semacam getaran balik dari strukturnya, seperti ketika dua nada yang tidak cocok dipaksakan bersamaan. Kemudian ada suara keras dari dalam, suara yang tidak seperti apapun yang pernah kami dengar sebelumnya, dan mesinnya berhenti."
"Lebih dari satu?"
"Tiga. Dari empat yang kami targetkan." Ada sesuatu di nada suaranya ketika mengatakan ini, sesuatu yang terdengar seperti rasa ingin bangga tapi belum yakin apakah diizinkan.
"Lalu kalian lari."
"Lari," katanya. "Iya."
Aku menatapnya beberapa saat. Kemudian aku bertanya pertanyaan yang paling penting:
"Ada yang melihat kalian?"
Ia menggeleng. Tapi ada sesuatu dalam kecepatannya menggeleng yang memberi tahuku bahwa ia tidak seratus persen yakin.
Dewan dipanggil dalam dua jam.
Bukan karena Voreth melapor, ia tidak melapor. Tapi karena di kota manusia terjadi sesuatu yang terlihat dari perbukitan, dan setidaknya dua belas orang klan sudah melihatnya dan berita menyebar dengan kecepatan yang tidak pernah bisa dikendalikan oleh siapapun.
Omeral duduk dengan tangan dilipat di atas meja dan wajah yang tidak bisa kubaca, bukan karena ia menyembunyikan sesuatu tapi karena terlalu banyak hal yang sedang diolah di dalamnya sekaligus. Kureth berdiri di sudut. Serath duduk di sampingku dengan bahu yang tegang.
Voreth berdiri di tengah lingkaran. Tidak meminta maaf, tidak membela diri. Hanya berdiri dan menunggu.
"Kamu melanggar keputusan Dewan," kata Kureth.
"Ya," kata Voreth. Sama persis seperti cara Yenna menjawab pertanyaan yang sama beberapa bulan lalu. Aku tidak tahu apakah ia sadar melakukan itu.
"Ini bisa memperburuk situasi kita," kata Kureth. "Kita baru saja memberikan mereka alasan untuk merespons dengan keras."
"Mereka sudah keras," kata Voreth. Tenang. Bukan agresif. Tenang seperti seseorang yang sudah memikirkan sesuatu sangat lama dan tidak lagi perlu berdebat tentangnya, hanya menyatakannya. "Mereka mengebor tanah kita. Anak-anak kita sakit kepala. Komunikasi kita terganggu. Tidak ada yang merespons dengan keras ketika kita meminta mereka berhenti. Saya tidak tahu apa yang dimaksud Kureth dengan keras, tapi keras yang saya pilih ini setidaknya membuat sesuatu berhenti."
Kureth membuka mulut. Menutupnya.
Omeral mengangkat tangan sedikit, isyarat kecil yang menghentikan semua orang.
"Sekarang bukan waktunya berdebat tentang apakah ini benar atau salah," kata Omeral. "Sekarang waktunya memutuskan apa yang kita lakukan selanjutnya, karena mereka akan merespons dan kita perlu memilih bagaimana berdiri ketika mereka melakukannya."
Ruangan itu diam. Omeral memandang sekeliling, satu per satu, kemudian ia menatap Voreth.
"Kamu melakukan ini atas nama siapa?"