Aku ingin menulis bahwa Yenna berkhianat karena lemah. Akan lebih mudah kalau itu benar.
Tapi itu tidak benar, dan Veth-Kara tugasnya adalah menjaga ingatan dengan jujur, termasuk ingatan tentang hal yang menyakitkan, termasuk ingatan tentang seseorang yang melakukan sesuatu yang salah bukan karena jahat tapi karena terlalu percaya pada hal yang tidak layak dipercayai.
Yenna tidak lemah. Yenna adalah orang yang paling berani yang pernah aku kenal, dalam cara yang tidak sering dikenali sebagai keberanian karena tidak terlihat seperti keberanian dari luar. Ia berani dalam cara ilmuwan yang muda dan yakin bahwa pikiran bisa menjembatani apapun, termasuk niat buruk, termasuk ketimpangan kekuatan, termasuk jarak antara dua spesies yang salah satunya sudah memutuskan apa yang diinginkannya sebelum percakapan bahkan dimulai.
Yenna percaya bahwa pemahaman bisa mengubah sesuatu. Dan kepercayaan itu, bukan kelemahannya, adalah yang dimanfaatkan.
Seminggu setelah kematian Orath dan Sevel, Yenna datang ke rumahku pagi-pagi sebelum aku selesai sarapan. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang tidak tidur, bukan karena terjaga semalam suntuk tapi karena sudah tidak tidur dengan baik sejak cukup lama dan tubuhnya mulai menunjukkannya.
"Aku perlu bicara," katanya.
Aku meletakkan makananku. "Duduk."
Ia duduk tapi tidak seperti orang yang siap bicara. Lebih seperti orang yang sudah memutuskan untuk bicara tapi masih mencari dari mana memulainya, masih menyusun kata-kata yang sudah ada di dalam kepalanya menjadi urutan yang bisa dikeluarkan.
"Mereka memintaku lagi," katanya akhirnya.
"Memintamu apa?"
"Informasi. Setelah insiden kemarin mereka ingin tahu lebih banyak tentang cara kerja resonansi Ganemai. Cara frekuensi bisa digunakan sebagai alat, jangkauan maksimalnya, titik-titik di mana efeknya paling kuat." Ia berhenti. "Mereka bilang untuk keamanan. Supaya mereka bisa melindungi fasilitas dari serangan seperti yang dilakukan Voreth."
"Dan kamu percaya itu."
Ia tidak langsung menjawab. "Saya pikir ada bagian dari itu yang benar."
"Yenna."
"Saya tahu bagaimana kedengarannya," katanya cepat. "Tapi dengarkan dulu. Kalau saya memberikan informasi yang terkontrol, informasi yang saya pilih sendiri, saya bisa mengarahkan pemahaman mereka ke tempat yang saya inginkan. Saya bisa memberi mereka gambaran yang tidak lengkap tentang sistem resonansi kita, gambaran yang cukup untuk membuat mereka merasa sudah mengerti tapi tidak cukup untuk benar-benar bisa mengeksploitasinya."
Aku menatapnya lama.
"Kamu sudah memikirkan ini sejak kapan?"
"Beberapa minggu."
"Dan kamu baru cerita sekarang."
"Saya tidak yakin kamu akan setuju."
"Aku tidak setuju."
Ia menatapku dengan mata yang lelah dan keras sekaligus. "Apa pilihan lain yang kita punya, Erevath? Kita sudah meminta mereka berhenti, mereka tidak berhenti. Voreth sudah mencoba menghentikan paksa, dua orang kita mati. Dewan sudah bernegosiasi sampai kata-kata kita habis. Saya berada dalam posisi di mana saya bisa melakukan sesuatu dari dalam. Kenapa saya tidak mencobanya?"
"Karena mereka lebih baik dari kamu dalam permainan itu," kataku. "Kamu ilmuwan yang luar biasa, Yenna. Tapi mereka sudah melakukan ini di lebih dari satu planet. Kamu pikir kamu bisa mengontrol apa yang mereka pelajari dari kamu? Kamu pikir mereka tidak tahu bahwa kamu sedang mencoba mengontrol itu?"
Ia membuka mulut. Menutupnya. Di wajahnya ada perang kecil yang berlangsung cepat antara dua hal yang sama-sama ia percayai: bahwa ia cukup pintar untuk melakukan ini, dan bahwa mungkin aku benar.
"Beri aku waktu untuk mencoba," katanya akhirnya. "Kalau saya melihat bahwa saya salah, saya akan berhenti."
"Kapan kamu akan tahu bahwa kamu salah?"
"Saya akan tahu."
"Yenna. Orang yang sedang dimanipulasi hampir tidak pernah tahu kapan tepatnya manipulasi itu dimulai. Itu sifat manipulasi."
Ia berdiri. Aku melihat bahwa keputusannya sudah dibuat sebelum ia datang ke sini, bahwa ia datang bukan untuk meminta persetujuanku tapi untuk memberi tahu, dan mungkin juga untuk melihat apakah aku punya argumen yang cukup kuat untuk membuatnya berubah pikiran.
Aku tidak punya argumen yang cukup kuat. Atau mungkin ia tidak dalam kondisi untuk mendengarnya.
"Aku tidak akan melaporkan ini ke Dewan," kataku. "Tapi aku mohon kamu berhati-hati."
"Selalu," katanya. Dan ia pergi.
Aku duduk sendirian di meja sarapanku dengan makanan yang sudah dingin dan perasaan seperti seseorang yang baru saja membiarkan seseorang berjalan ke arah yang salah karena tidak punya cara untuk menghentikannya tanpa melukai sesuatu yang lain.
Selama tiga minggu berikutnya, komunikasi antara Yenna dan tim Elara intensitasnya naik secara signifikan. Aku tahu ini bukan dari Yenna langsung tapi dari cara laporan-laporan yang masuk ke Dewan berubah: tiba-tiba ada lebih banyak detail teknis dalam permintaan-permintaan mereka, lebih banyak presisi dalam pertanyaan mereka tentang wilayah mana yang bisa dan tidak bisa diakses, lebih banyak kefasihan dalam cara mereka membicarakan ekosistem bawah tanah Ganema.
Kefasihan yang tidak bisa datang dari observasi saja.
Aku melihat Yenna dua kali selama periode itu. Pertama di jalan, singkat, ia terlihat sibuk dan sedikit tergesa. Ia tersenyum kepadaku, senyum yang sedikit terlalu lebar untuk seseorang yang tidak sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.
Kedua di laboratoriumnya, malam hari, ketika aku sengaja datang untuk duduk bersamanya tanpa tujuan khusus. Ia bekerja dengan konsentrasinya yang biasa tapi ada sesuatu yang berbeda dalam cara ia memegang alatnya, cara terlalu erat dan terlalu sering diperiksa, seperti seseorang yang sudah tidak sepenuhnya mempercayai pekerjaannya sendiri tapi belum bisa berhenti.
"Bagaimana?" tanyaku.
"Baik," katanya. Terlalu cepat.