KOSMOS: BINTANG DI RENGGUT

Dio Septian
Chapter #9

Aliansi Dua Planet

Ide itu bukan dari aku dan bukan dari Voreth.

Ide itu datang dari Omeral, yang mengajukannya pada suatu pagi ketika kami berdua sedang duduk di teras balai sebelum sesi Dewan dimulai, diajukan dengan suara yang pelan dan cara yang tidak seperti pengumuman tapi seperti sesuatu yang sudah lama dipikirkan dan akhirnya cukup matang untuk dikeluarkan.

"Kita perlu menghubungi Sethara lagi," katanya. "Bukan untuk minta tolong. Untuk bertanya apakah mereka mau berdiri bersama."

Aku menatapnya. "Bedanya?"

"Minta tolong berarti kita lemah dan mereka kuat dan kita berharap kekuatan mereka bisa menggantikan kelemahan kita. Berdiri bersama berarti kita sama-sama punya sesuatu untuk dijaga dan sama-sama memilih untuk menjaganya pada saat yang bersamaan." Ia berhenti. "Sethari tidak punya armada. Mereka tidak punya senjata yang lebih baik dari kita. Tapi mereka ada, dan ada itu sudah berarti sesuatu kalau kita tahu cara menggunakannya."

Aku berpikir tentang peta bintang yang Aseth bawa, tentang titik-titik yang sudah tidak ada seperti sebelumnya. Tentang cara feromon duka cita Aseth mengisi ruangan ketika ia bercerita tentang planet-planet itu.

"Mereka sudah kehilangan banyak karena manusia," kataku. "Kita meminta mereka mempertaruhkan lebih?"

"Kita tidak meminta mereka mempertaruhkan apapun. Kita mengundang mereka untuk memutuskan sendiri apakah mereka mau." Omeral menatap langit di atas kami, langit pagi yang masih ungu di tepinya. "Ada perbedaan antara menanggung sendiri dan menanggung berdua meski beban yang ditanggung sama beratnya. Sethari tahu itu. Aku yakin mereka tahu itu."

Aku tidak langsung menjawab. Aku memikirkan ini dari semua sudut yang bisa kujangkau. Memikirkan risikonya bagi Sethari, memikirkan apa yang bisa kami tawarkan sebagai imbalan yang setara, memikirkan apakah ini adil atau hanya cara yang lebih halus dari meminta tolong.

"Aku akan ke sana sendiri," kataku akhirnya. "Kalau Dewan mengizinkan. Ini perlu dilakukan langsung, bukan melalui sinyal."

Omeral mengangguk. Sangat pelan, seperti orang yang sudah menghemat tenaganya untuk hal-hal yang penting saja. "Aku akan mengizinkan," katanya. Bukan dalam kapasitasnya sebagai anggota Dewan tertua. Dalam kapasitasnya sebagai seseorang yang sudah terlalu tua untuk berpura-pura bahwa masih ada waktu untuk prosedur yang panjang.

Perjalanan ke Sethara memakan waktu empat hari dengan wahana terbang yang kami pinjam dari klan Maret, wahana yang digunakan untuk perjalanan antarpermukiman dan tidak dirancang untuk perjalanan antarbenua tapi cukup untuk menyeberangi lautan yang memisahkan benua kami dari daratan terdekat Sethari.

Aku pergi berdua dengan Serath, yang memiliki pengalaman terbang paling banyak di antara anggota klan kami dan yang ketika aku bilang aku perlu seseorang menemani, langsung berdiri tanpa ditanya dua kali.

Voreth meminta ikut. Aku bilang tidak.

"Kenapa?"

"Karena kamu perlu di sini. Karena kalau terjadi sesuatu selama aku pergi, ada yang perlu membuat keputusan cepat dan aku tidak mempercayai siapapun untuk itu selain kamu sekarang."

Ia menatapku dengan cara yang tidak bisa aku baca sepenuhnya. Kemudian ia berkata: "Kamu tahu ini bukan alasan yang sesungguhnya."

"Ini bagian dari alasan yang sesungguhnya," kataku. "Bagian lainnya adalah aku tidak mau kamu jauh dari sini kalau ada yang berubah dengan cepat."

"Kamu khawatir tentang aku."

"Aku selalu khawatir tentang kamu. Itu bukan hal baru."

Ia diam sebentar. Kemudian: "Baik. Aku akan di sini."

Dan ia melepaskan kami pergi dengan cara seseorang yang sudah belajar bahwa melepas kadang sama pentingnya dengan memegang.

Lautan antara dua benua itu berwarna hijau tua dari atas, berbeda dari lautan asam di sisi timur yang lebih terang dan lebih berbahaya. Aku duduk di depan wahana dan menatap lautan itu selama berjam-jam, merasakan jarak antara diri sendiri dan segala sesuatu yang tertinggal.

Ada sesuatu dalam perjalanan yang membuat pikiran bekerja dengan cara yang berbeda. Ketika kau bergerak, ketika pemandangan di bawah terus berganti, pikiran tidak punya tempat untuk berhenti dan menumpuk. Ia ikut bergerak. Dan dalam gerak itu, kadang hal-hal yang sulit untuk dilihat dari posisi diam menjadi lebih mudah.

Aku memikirkan Yenna.

Bukan dengan marah, bukan lagi. Dengan cara yang lebih tenang, lebih seperti mencoba memahami daripada menghakimi. Yenna percaya pada kekuatan pemahaman karena pemahaman adalah satu-satunya senjata yang selalu berhasil untuknya. Seluruh hidupnya dibangun di atas premis bahwa jika kau mengerti sesuatu dengan cukup dalam, kau bisa menemukannya dan mendekatinya dan menjadi bagian dari jalan keluarnya.

Dan premis itu benar, untuk hampir semua hal yang pernah ia hadapi sebelumnya.

Yang tidak ia perhitungkan adalah bahwa ada situasi di mana pemahaman yang sempurna pun tidak mengubah apapun. Bukan karena pemahamannya salah, tapi karena pihak lain tidak memilih berdasarkan pemahaman. Mereka memilih berdasarkan kepentingan. Dan kepentingan tidak berubah hanya karena kau mengerti lebih baik dari sebelumnya mengapa kepentingan itu ada.

Aku memikirkan ini dan memikirkan berapa banyak dari kami yang membuat kesalahan yang sama dalam skala yang berbeda. Berapa banyak dari kami yang terus mencoba memahami ketika yang diperlukan adalah sesuatu selain pemahaman.

Lautan di bawah terus bergerak. Serath terbang dengan tenang di kursi kemudi. Langit semakin lama semakin berubah dari warna Ganema ke warna yang sedikit berbeda, sedikit lebih hijau, sedikit lebih lembab, warna langit benua yang ekosistemnya berbeda dari yang kami tinggali.

Warna langit Sethara.

Aseth tidak terkejut melihat kami. Ini yang pertama aku perhatikan ketika kami mendarat di padang pendaratan di luar komunitas Sethari terbesar di benua utara mereka. Aseth sudah menunggu di tepi padang, bersama dua orang lain, dengan cara berdiri seseorang yang sudah tahu bahwa seseorang akan datang dan hanya belum tahu kapan tepatnya.

"Kamu merasakannya," kataku ketika kami cukup dekat. Bukan pertanyaan.

Antena Aseth bergerak dalam konfirmasi. Sethari punya jangkauan perasaan yang berbeda dari kami, lebih luas dalam beberapa hal, lebih terbatas dalam hal lain. Mereka tidak bisa merasakan bioelektrik seperti kami, tapi mereka bisa merasakan perubahan dalam pola feromon kolektif di jarak yang sangat jauh, termasuk feromon kecemasan yang sudah pasti memancar dari seluruh benua Ganema selama beberapa minggu terakhir.

"Kami merasakannya," kata Aseth, dalam bahasa Ganemai yang sedikit lebih baik dari terakhir kali kami bertemu. Ia belajar, ternyata. Sepanjang waktu. "Kami tunggu kamu datang."

"Kenapa tidak menghubungi kami duluan?"

Ia berpikir sebentar, memilih kata dengan hati-hati. "Karena keputusan harus dari kamu. Bukan dari kami yang mendorong."

Aku menatapnya. Dalam antena-nya yang diam dan sayap-sayapnya yang terlipat rapi ada sesuatu yang terasa seperti penghormatan dari bentuk yang tidak memerlukan kata untuk ada.

Lihat selengkapnya