Hari kedua puluh delapan dari enam puluh yang kami rencanakan.
Itu yang aku ingat pertama: angkanya. Bukan karena angka itu penting dalam dirinya sendiri, tapi karena setelah semua yang terjadi kemudian angka itu menjadi semacam penanda, cara otak menggantungkan kenangan pada sesuatu yang konkret ketika semua yang konkret lainnya terlalu berat untuk dipegang.
Hari kedua puluh delapan. Masih tiga puluh dua hari lagi menuju enam puluh. Masih setengah lebih perjalanan yang tersisa. Infrastruktur relai yang sedang dibangun bersama ahli frekuensi Sethari sudah mencapai tiga puluh persen penyelesaian. Bukan terburu-buru, bukan terlambat. Tepat sesuai perhitungan.
Pagi itu aku sedang di balai, membantu Serath menyusun catatan komunikasi dengan tim Sethari yang datang dari seberang lautan untuk bekerja di sisi kami, ketika sinyal masuk.
Bukan sinyal yang kami tunggu. Bukan sinyal sesuai jadwal dari Aseth yang biasanya datang setiap pagi dengan laporan kemajuan singkat. Ini sinyal yang berbeda: lebih pendek, lebih padat, dikodekan dalam pola darurat yang Aseth ajarkan kepada kami sebelum pergi tapi yang kami harap tidak perlu digunakan.
Aku dan Serath saling menatap.
Ia membaca pola itu lebih cepat dariku karena ia yang paling banyak belajar cara komunikasi Sethari sejak mereka mulai bekerja bersama. Wajahnya ketika selesai membaca adalah wajah seseorang yang menerima kabar yang sudah ditakutkan dengan cara yang tidak membuat ketakutan itu terasa lebih baik hanya karena akhirnya tiba.
"Sethara," katanya. Hanya kata itu.
"Apa yang terjadi?"
"Armada manusia. Mereka bergerak ke Sethara."
Kami tidak tahu berapa besar armada itu sampai sinyal-sinyal berikutnya datang satu per satu sepanjang hari itu, masing-masing membawa informasi yang sedikit lebih parah dari sebelumnya seperti luka yang terus terbuka.
Lima belas kapal besar. Lebih dari dua kali lipat yang ada di orbit Ganema. Mereka datang dari arah yang tidak ada stasiun pengamatan Sethari di sana, dari celah di antara dua rasi yang selama ini dianggap terlalu jauh dari jalur yang masuk akal.
Tidak terlalu jauh. Hanya tidak diawasi.
Aseth mengirim pesan pendek di antara laporan-laporan itu: bukan penjelasan, bukan permintaan, hanya satu kalimat yang diterjemahkan Serath dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.
"Ia bilang: lanjutkan rencana. Jangan hentikan apapun karena kami."
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Kemudian aku keluar dari balai karena butuh udara dan butuh jarak dari dinding-dinding yang tiba-tiba terasa terlalu dekat. Aku berdiri di halaman balai dan menatap langit utara yang siang itu cerah dan biru muda, warna yang biasanya kubiarkan masuk ke dalam tanpa memikirkannya karena sudah selalu ada dan selalu akan ada.
Di seberang lautan, Aseth sedang menghadapi lima belas kapal besar. Dan kata-kata yang ia kirimkan kepada kami bukan minta tolong, bukan selamat tinggal, tapi perintah untuk melanjutkan.
Aku tidak pernah menghormati seseorang seperti aku menghormati Aseth di momen itu, dan aku bahkan tidak ada di sana untuk mengatakannya.
Hari-hari berikutnya adalah hari yang paling sulit untuk ditulis, bukan karena tidak terjadi apa-apa tapi karena terlalu banyak yang terjadi dan semuanya terjadi dengan kecepatan yang tidak memberi waktu untuk merasakan satu hal sebelum hal berikutnya datang.
Hari ketiga puluh satu: sinyal dari Aseth mengatakan bahwa armada manusia sudah memasuki orbit Sethara. Mereka tidak langsung menyerang. Mereka mengirim komunikasi, dalam bahasa yang Sethari tidak sepenuhnya mengerti, dengan pola yang dari deskripsi Aseth kami kenali sebagai pola yang sama dengan yang dulu mereka gunakan kepada kami: perkenalan, tawaran, bahasa yang terdengar seperti niat baik.
Aseth menolak komunikasi itu.
Hari ketiga puluh tiga: armada mulai bergerak lebih dekat ke permukaan. Bukan mendarat. Hanya lebih dekat. Cara seseorang berdiri di depan pintu rumahmu tanpa mengetuk tapi dengan cara yang jelas mengatakan bahwa ia tidak akan pergi.
Hari ketiga puluh lima: serangan pertama. Bukan ke komunitas. Ke infrastruktur komunikasi Sethari di permukaan, menara-menara kecil yang menghubungkan komunitas bawah tanah yang tersebar di benua mereka. Presisi yang menyeramkan: mereka tahu persis apa yang perlu dirusak untuk mengisolasi dulu sebelum menguasai.
Hari ketiga puluh enam: sinyal dari Aseth berhenti.
Hari ketiga puluh tujuh: sinyal dari Aseth berhenti.
Hari ketiga puluh delapan: sinyal dari Aseth berhenti.
Pada hari ketiga puluh sembilan, ketika kami sudah berhenti menunggu dengan cara yang aktif dan mulai menunggu dengan cara yang lebih pasrah, datang sinyal pendek yang bukan dari Aseth tapi dari salah satu ahli frekuensi Sethari yang bekerja di sisi kami.
Ia mengirim hanya koordinat dan satu kata dalam bahasa Sethari yang tidak perlu diterjemahkan karena ada kata-kata yang cukup universal untuk dimengerti tanpa kamus.
Serath, yang membacanya, duduk diam cukup lama sebelum menerjemahkannya kepadaku.
"Komunitas utama Sethari," katanya akhirnya. "Sudah tidak bisa diakses."
Aku mencari Voreth.
Bukan karena ada rencana yang perlu didiskusikan, bukan karena ada keputusan yang mendesak. Tapi karena ada kabar yang terlalu berat untuk dibawa sendiri, dan ada orang-orang yang kehadirannya membuat berat itu tidak lebih ringan tapi lebih bisa ditanggung.
Aku menemukan ia di Tilas, batu datar di puncak perbukitan utara, tempat yang sudah menjadi semacam tempat kembali bagi kami berdua sejak pertama kali kami duduk di sana untuk melihat Veth-Laan di langit.
Ia sudah tahu. Aku merasakannya dari bioelektriknya bahkan sebelum sampai di puncak. Ada kualitas tertentu dari bioelektrik seseorang yang sudah mendengar berita buruk dan sudah duduk dengan berita itu cukup lama untuk melewati tahap pertama dari kaget ke sesuatu yang lebih dalam dan lebih diam.