Yenna datang kembali pada hari keenam setelah operasi relai.
Bukan kembali seperti seseorang yang pulang. Kembali seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk kembali dan tidak sepenuhnya yakin apakah keputusan itu datang cukup tidak terlambat, yang berjalan ke arah permukiman dengan cara seseorang yang menghitung setiap langkah bukan karena ragu tapi karena tahu bahwa beberapa langkah tidak bisa diulangi.
Voreth yang pertama melihatnya.
Ia datang ke tempatku bukan dengan berlari seperti biasanya tapi dengan langkah yang terkendali, langkah yang aku kenali sebagai langkah seseorang yang membawa kabar yang perlu disampaikan dengan cara yang benar.
"Yenna," katanya.
Satu kata. Cukup.
Aku berdiri dari tempat dudukku dan mengikutinya.
Yenna berdiri di tepi permukiman, di jalan kecil yang menghubungkan padang selatan dengan rumah-rumah klan. Ia membawa tas yang sama seperti yang ia bawa ketika pergi, tapi sekarang tas itu terlihat lebih penuh, lebih berat di bahunya. Wajahnya berbeda dari terakhir kali aku lihat: lebih tirus, lebih dalam di bawah matanya yang keempat, lebih seperti seseorang yang sudah melewati beberapa malam yang tidak memberinya istirahat tapi banyak memberinya waktu untuk berpikir.
Ketika ia melihatku datang ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri dan menunggu, seperti seseorang yang sudah memutuskan bahwa berlari atau bersembunyi sudah bukan pilihan yang relevan.
"Erevath," katanya ketika aku cukup dekat.
"Yenna."
Kami saling menatap beberapa saat. Di antara kami ada semua yang belum diucapkan dan semua yang sudah terlanjur terjadi dan semua yang tidak bisa diubah oleh kata-kata manapun.
"Aku perlu bicara dengan Dewan," katanya. "Sekarang. Ada yang perlu mereka tahu sebelum mereka mengetahuinya dari cara yang lebih buruk."
"Apa yang terjadi?"
"Biarkan aku ceritakan semuanya sekali. Kepada semua orang yang perlu mendengar. Aku tidak sanggup mengulanginya."
Aku menatapnya. Ada sesuatu dalam cara ia berdiri yang berbeda dari semua cara ia berdiri sebelumnya, cara yang membuatku memilih untuk tidak bertanya lebih jauh dan langsung membawanya ke Dewan.
"Baik," kataku. "Mari."
Dewan berkumpul dalam waktu kurang dari satu jam. Bukan karena ini dijadwalkan tapi karena berita tentang kembalinya Yenna menyebar dengan kecepatan yang tidak bisa dikendalikan dan semua yang perlu hadir hadir dengan alasannya masing-masing.
Yenna duduk di tengah lingkaran. Bukan posisi yang biasanya diisi oleh tamu atau pelapor. Ia memilih sendiri posisi itu, menarik kursi ke tengah dan duduk di sana sebelum siapapun bisa menentukan di mana ia seharusnya.
Tidak ada yang memindahkannya.
Ia memulai tanpa diminta, tanpa basa-basi, seperti seseorang yang sudah menyiapkan kata-kata ini selama perjalanan pulang dan tidak mau membiarkan kata-kata itu mendingin lebih lama dari yang perlu.
"Saya pergi ke kota mereka karena percaya bisa mengubah sesuatu dari dalam," katanya. "Saya salah. Bukan tentang niatnya tapi tentang cara kerjanya."
Ruangan itu diam. Yenna melanjutkan.
"Mereka menerima saya dengan sangat baik. Terlalu baik, sekarang kalau saya lihat kembali. Mereka memberi saya akses ke laboratorium mereka, memberi saya data yang saya pikir berguna untuk memahami teknologi mereka, memberi saya ilusi bahwa saya adalah mitra yang dihargai bukan aset yang dikelola."
Jeda. Ia mengambil napas.
"Setiap informasi yang saya berikan kepada mereka, saya pikir sudah saya pilih dengan cermat. Saya pikir saya tahu mana yang aman untuk diberikan dan mana yang tidak. Tapi mereka lebih baik dari saya dalam menyatukan kepingan-kepingan kecil menjadi gambaran yang lebih besar dari yang saya maksudkan."
"Apa yang sudah mereka pelajari?" tanya Kureth. Suaranya bukan marah. Datar dengan cara orang yang perlu informasi yang spesifik dan tidak mau mengisinya dengan emosi dulu sebelum mendapatkan informasinya.
Yenna membuka tasnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar catatan, tulisan tangannya sendiri, penuh dengan diagram dan angka dan notasi yang aku kenali sebagai bahasa kerja Yenna yang sudah aku lihat di lantai laboratoriumnya selama bertahun-tahun.
"Ini yang sudah mereka miliki," katanya, meletakkan catatan di meja. "Peta jalur resonansi yang saya berikan sebelumnya, itu sudah mereka gunakan seperti yang kita tahu. Tapi ada lebih dari itu. Dalam sesi-sesi komunikasi selama saya di sana, saya tanpa sadar mengkonfirmasi beberapa hal yang mereka sudah duga tapi belum yakin."
"Misalnya?" tanya Serath.
"Kapasitas maksimum frekuensi yang bisa dihasilkan oleh komunitas Ganemai dalam kondisi normal. Jangkauan efektif komunikasi bioelektrik antarindividu setelah gangguan pengeboran. Dan..." Ia berhenti. Matanya turun sebentar ke catatannya kemudian naik lagi. "Lokasi perkiraan dari simpul resonansi cadangan yang belum mereka temukan. Yang ada di bawah padang barat."
Ruangan itu bergeser dengan cara yang tidak fisik tapi bisa dirasakan oleh semua orang di dalamnya.
Simpul cadangan di bawah padang barat adalah yang terakhir. Satu-satunya yang masih utuh setelah semua pengeboran yang sudah terjadi di utara. Satu-satunya yang masih memberi komunikasi bioelektrik kami semacam fondasi untuk berdiri.
"Mereka tahu di mana letaknya," kata Omeral. Bukan pertanyaan. Pernyataan yang diucapkan dengan nada seseorang yang sedang menerima sesuatu yang berat dengan cara yang sudah disiapkan untuk menerima sesuatu yang berat.
"Perkiraan lokasi," kata Yenna. "Bukan tepat. Tapi cukup dekat untuk mulai mencarinya."
Omeral mengangguk sangat pelan.
"Kenapa kamu kembali?" tanya Voreth.
Ia tidak ada di dalam lingkaran resmi Dewan tapi pertanyaannya keluar sebelum siapapun bisa memutuskan apakah ia boleh bertanya. Dan tidak ada yang menghentikannya karena pertanyaan itu adalah pertanyaan yang semua orang ingin tanyakan.
Yenna menatap Voreth. Ada sesuatu dalam cara mereka saling menatap yang mengingatkanku pada cara dua orang yang sudah lama berteman melihat satu sama lain setelah sesuatu yang besar terjadi di antara mereka, cara yang penuh dengan sejarah yang tidak perlu disebutkan tapi yang ada di setiap milimeter jarak antara keduanya.
"Karena saya melihat rekaman dari operasi relai," kata Yenna. "Mereka punya rekaman dari berbagai sudut. Mereka tidak menyembunyikannya dari saya. Mungkin mereka pikir saya sudah cukup di pihak mereka untuk tidak masalah jika saya melihat."
"Rekaman apa?" tanya Voreth.
"Rekaman perbukitan barat. Saya melihat relainya. Saya melihat orang-orangnya dari kejauhan." Ia berhenti sebentar. "Saya melihat Voreth menunggu."
Ruangan itu sangat diam.
"Saya melihat kamu menunggu dua orang Sethari itu pergi sebelum kamu berlari sendiri," kata Yenna, matanya masih pada Voreth. "Dan saya berdiri di depan layar rekaman itu dan saya menyadari sesuatu yang seharusnya sudah saya sadari jauh sebelumnya."