Mereka tidak menyerang permukiman.
Aku perlu menulis ini dulu karena itu yang paling penting untuk dipahami tentang apa yang terjadi: mereka tidak menyerang permukiman. Mereka tidak membunuh secara massal. Mereka tidak melakukan apapun yang dalam sejarah peperangan yang pernah kami pelajari dari catatan lama bisa disebut sebagai serangan langsung terhadap penduduk sipil.
Yang mereka lakukan jauh lebih presisi dari itu. Dan karena itu jauh lebih sulit untuk dilawan.
Mereka menyerang jaringan.
Bukan orang, bukan bangunan, bukan simbol. Jaringan. Cara segala sesuatu terhubung satu sama lain di bawah permukaan, di dalam tanah, di antara kristal-kristal yang tersisa, di sepanjang jalur-jalur bioelektrik yang sudah ada jauh sebelum permukiman pertama dibangun di atas mereka. Titik demi titik, dengan presisi yang memberitahuku bahwa mereka sudah memetakan ini jauh lebih lengkap dari yang kami duga.
Peta yang Yenna berikan, ditambah semua yang mereka pelajari sendiri selama berbulan-bulan. Semuanya sudah ada dalam perhitungan mereka.
Serangan pertama datang tanpa peringatan pada pagi hari ketujuh belas setelah Yenna kembali.
Aku merasakannya sebelum mendengar atau melihat apapun. Bukan seperti merasakan getaran atau suara. Lebih seperti ketika seseorang yang selalu ada di pinggiran kesadaranmu tiba-tiba tidak ada lagi, dan absennya itu sendiri yang kamu rasakan, bukan sesuatu yang aktif tapi sesuatu yang pasif, sesuatu yang hanya bisa dirasakan karena kehadirannya selama ini sudah menjadi latar belakang dari semua hal lain.
Resonansi padang timur berhenti.
Bukan melambat. Bukan terganggu. Berhenti, dalam waktu kurang dari satu detik, seperti senar yang diputus, seperti suara yang dipotong di tengah napas.
Aku duduk di kasurku dan merasakan absennya itu mengisi ruangan dengan cara yang tidak bisa diisi oleh apapun yang ada. Kemudian dari luar datang suara, suara yang sudah aku kenal dan tidak ingin kukenal, suara yang terasa bukan seperti suara tapi seperti tekanan yang memilih untuk menjadi suara.
Suara dari langit.
Aku pergi keluar.
Di langit, sesuatu yang aku tidak punya kata yang tepat untuk mendeskripsikannya sedang terjadi.
Bukan ledakan dalam arti yang pernah aku pahami. Lebih seperti titik-titik kecil di ketinggian tertentu yang memancarkan cahaya dalam frekuensi yang mataku yang keempat bisa tangkap lebih jelas dari yang kedua: frekuensi tinggi, terfokus, didesain untuk menembus lapisan tanah sampai kedalaman yang spesifik. Bukan untuk menghancurkan permukaan. Untuk memutus apa yang ada di bawah permukaan.
Yenna muncul di sebelahku dari arah mana aku tidak memperhatikan, dan ia berdiri sambil menatap ke atas dengan matanya yang keempat terbuka lebar dan berkata dengan suara yang sangat datar karena terlalu banyak yang sedang diproses untuk mengizinkan emosi masuk:
"Mereka menggunakan teknologi disrurpsi subterranial. Saya melihatnya di laboratorium mereka tapi tidak tahu ini yang akan mereka gunakan untuk ini."
"Apa yang dilakukannya?"
"Memutus koneksi antara simpul resonansi dengan cara yang tidak bisa diperbaiki dengan cepat. Bukan menghancurkan simpulnya. Memutus jalurnya. Seperti memotong semua jalan menuju suatu kota tanpa menyentuh kotanya sendiri."
"Berapa lama efeknya?"
Yenna tidak langsung menjawab. Itu sendiri sudah menjadi jawaban.
"Yenna."
"Permanen," katanya akhirnya. "Dengan teknologi yang kita punya, tidak ada cara membangun ulang jalur itu dalam waktu yang relevan."
Permanen.
Aku berdiri di bawah langit yang masih memancarkan titik-titik kecil itu dan membiarkan kata itu duduk di dalam dadaku dengan cara yang berat. Permanen bukan seperti mati. Permanen seperti kehilangan kemampuan untuk mendengar, kehilangan kemampuan untuk berbicara dalam bahasa yang hanya bisa kau gunakan dengan satu cara dan tidak ada cara lainnya.
Dalam enam hari berikutnya, tiga belas titik resonansi utama di benua kami diputus satu per satu.
Tidak semuanya sekaligus. Mereka melakukannya dengan interval yang terukur, masing-masing dengan jeda yang cukup panjang untuk kami merasakan kehilangannya sepenuhnya sebelum kehilangan berikutnya datang. Aku tidak tahu apakah ini strategi atau kekejaman atau keduanya, dan aku tidak yakin ada bedanya.
Setiap kali satu titik diputus, sesuatu berubah di antara orang-orang di permukiman.
Bukan secara fisik, tidak langsung. Lebih seperti ketika kamu melihat seseorang yang sedang belajar menerima sesuatu yang tidak bisa ditolak, perubahan kecil di cara punggungnya, di cara matanya bergerak, di cara ia merespons sapaan yang tidak ada bedanya dari kemarin tapi terasa sedikit berbeda dari kemarin karena konteksnya sudah berbeda.
Setelah titik ketiga diputus, Serath datang ke rumahku dan duduk tanpa bicara selama hampir satu jam. Aku tidak mengisinya. Ketika ia akhirnya bicara, ia berkata:
"Aku sudah tidak bisa merasakan saudara perempuanku dari klan Theron sejak dua hari lalu. Kami selalu terhubung. Bahkan ketika ia jauh, selalu ada sedikit yang sampai."
Saudara perempuannya sudah menjadi bagian dari kehidupan Serath sejak mereka lahir dalam tahun yang berdekatan. Koneksi bioelektrik antara mereka bukan sesuatu yang dipelajari. Sesuatu yang ada begitu saja, yang tumbuh menjadi bagian dari cara Serath mengetahui bahwa ada orang lain di dunia ini yang merasakan hal-hal yang serupa.
"Ia masih ada," kataku. "Hanya jalurnya yang terputus."
"Aku tahu," kata Serath. "Tapi bagaimana cara menjelaskan perbedaan itu kepada bagian dari diri yang merasakan absennya, bukan keberadaannya?"
Aku tidak punya jawaban. Karena tidak ada jawaban yang jujur untuk itu.
Omeral merasakan ini lebih berat dari siapapun.
Ia sudah lemah sebelum serangan dimulai. Setelah titik kelima diputus ia tidak bisa lagi datang ke sesi Dewan, dan sesi Dewan mulai berlangsung di kamarnya yang kecil dengan beberapa kursi yang dibawa masuk dan jendela yang dibiarkan terbuka karena udara luar terasa sedikit lebih jelas dari dalam.